16 March 2017

Mandi Yang Bernilai Ibadah

Mandi Yang Bernilai Ibadah

Mandi merupakan salah satu aktifitas keseharian bagi kita untuk menjaga agar badan kita tetap bersih. Biasanya kita mandi sebelum berangkat ke tempat kerja agar badan terlihat segar atau mandi setelah melakukan aktifitas yang melelahkan sehingga badan kembali segar. Mungkin selama ini kita masih berpikiran bahwa mandi hanya aktifitas biasa yang hanya bertujuan agar badan kita tetap bersih dan segar, hanya itu. Padahal, mandi bisa menjadi ibadah dan akan mendapat pahala darinya tersebut jika melakukan mandi dengan benar sesuai tuntunan di dalam Islam. Berikut penjelasannya,

Rukun Mandi

Mandi Yang sesuai dengan tuntunan agama hanya bisa terwujud dengan dua hal. Pertama adalah niat. Karena inilah yang bisa membedakan kebiasaan atau aktifitas biasa dengan ibadah, dan niat adalah amalan hati murni. Kedua, Membasuh seluruh anggota tubuh. Hal ini didasarkan pada Firman Allah,


"... Dan jika kamu junub maka mandilah ..."(Q.S. Al - Maidah : 6) 

"Hai orang - orang yang beriman, janganlah kamu shalat sedangkan kamu dalam keadaan mabuk, hingga kamu mengerti apa yang kamu ucapkan. (Jangan pula kamu hampiri masjid) sedangkan kamu dalam keadaan junub, terkecuali sekedar berlalu saja, hingga kamu mandi."(Q.S An - Nisa' : 43) 

Sunah Mandi

Orang yang mandi disunahkan meneladani cara Rasulullah mandi, yakni mengawalinya dengan membasuh kedua telapak tangan sebanyak tiga kali dan meneruskannya dengan membasuh kemaluan. Lalu berwudhu secara sempurna seperti wudhu untuk shalat. Dia diperbolehkan menunda membasuh kaki hingga selesai mandi jika ia mandi di bak mandi atau wadah sejenis.

Kemudian menuangkan air ke kapala sambil menyela - nyela rambut supaya air bisa sampai ke akarnya, lalu menuangkan air ke seluruh tubuh. Diawali dengan menyiram bagian kanan badan dan meneruskan ke bagian kiri badan. Dia juga wajib menyampaikan air ke ketiak, bagian dalam telinganya, pusar, dan jari - jemari kakinya. Ini adalah anggota - anggota tubuh yang bisa dikenai air. Dalil untuk masalah ini adalah hadits Aisyah, "Bila mandi junub, Nabi memulainya dengan membasuh kedua tangannya, kemudian membasuh kemaluannya, lalu berwudhu seperti wudhu untuk shalat. Setelah itu beliau memasukkan jari - jemarinya ke akar - akar rambutnya, dan ketika telah yakin bahwa air telah sampai ke kulit, beliau menyiramkan tiga ciduk air ke kepalanya, lalu beliau menyiram ke seluruh tubuhnya." (HR Bukhari dan Muslim)

Dari penjelasan diatas dapat kita simpulkan terkait sunah mandi menjadi beberapa poin berikut :

  • Membasuh tangan sebanyak tiga kali sebelum memulai mandi
  • Membasuh kemaluan
  • Berwudhu seperti ketika akan shalat
  • Diawali dengan membasuh bagian kanan badan sebelum bagian kiri
  • Membersihkan rambut dengan memasukkan jari - jari kita hingga ke pangkal rambut dan menyiramkan air ke kepala sebanyak tiga kali
Demikian sedikit penjelasan mengenai Mandi Yang Bernilai Ibadah. Sebagai muslim tentunya kita harus berpikir cerdas. Bagaimana kita bisa mendapat pahala sebanyak - banyaknya dari amalan - amalan yang kita lakukan setiap hari. Hal sekecil apapun akan bernilai ibadah jika lakukan dengan niat yang ikhlas yaitu karena Allah dan dilakukan sesuai tuntunan Islam. Semoga bermanfaat

Sumber :
Ringkasan Fiqih Sunnah Sayid Sabiq - Sulaiman Al - Faifi

Read More

15 March 2017

Memberi Lebih Baik Daripada Menerima

Memberi Lebih Baik Daripada Menerima

Mungkin kita pernah mendengar kalimat "Tangan di atas lebih baik dari tangan di atas". Kalimat tersebut bisa kita maknai bahwa memberi sesuatu kepada sesorang itu lebih baik daripada menerima sesuatu dari sesorang. Dan ternyata pada zaman Nabi Muhammad banyak terdapat kisah - kisah teladan yang memberikan pelajaran terkait keutamaan memberi. Bagaimana orang - orang terdahulu lebih mementingkan saudaranya daripada dirinya sendiri. Bagaimana mereka dengan senang hati berkorban demi saudaranya.

Allah Ta’ala berfirman: “Dan mereka mengutamakan (orang-orang Muhajirin) atas diri mereka sendiri, sekalipun mereka dalam kesusahan.”  (Al-Hasyr:9)

Allah Ta’ala berfirman: “Mereka memberikan makanan yang disukainya kepada orang miskin, anak yatim dan orang yang ditawan....” (Ad-Dahr:8)

Dari Abu Hurairah ra., ia berkata: “Ada seseorang datang kepada Nabi saw dan berkata: “Sesungguhnya saya sangat lapar.” Maka beliau membawanya ke salah seorang isterinya, dan isterinya berkata: “Demi Zat yang mengutus engkau dengan kebenaran, saya tidak mempunyai apapun kecuali air.” Kemudian membawanya ke isteri yang lain, dan isteri yang lain menjawab seperti yang dikatakan isteri pertama, sehingga semua isterinya menjawab seperti yang dikatakan oleh isteri pertama, yakni: “Demi Zat yang mengutus engkau dengan kebenaran, saya tidak mempunyai apapun kecuali air.” Maka beliau bersabda kepada para sahabatnya: “Siapakah yang sanggup menjamu tamuku pada malam ini? “Salah seorang sahabat Anshar berkata: “Saya wahai Rasulullah.” Kemudian orang itu pergi bersama sahabat tadi. Sesampainya di rumah, ia berkata kepada isterinya: “Muliakanlah tamu Rasulullah saw!”

Dalam riwayat lain dikatakan: “Sahabat itu bertanya kepada isterinya: “Apakah kamu mempunyai makanan?” Isterinya menjawab: “Tidak punya, kecuali makanan untuk anak-anak.” Sahabat itu berkata: “Hiburlah mereka dengan sesuatu. Apabila mereka ingin makan, tidurkanlah mereka. Apabila tamu kita masuk, padamkanlah lampu dan perlihatkanlah seolah-olah kita ikut makan.” Kemudian mereka duduk bersama, dan tamu itu makan, tetapi sahabat dan isterinya dalam keadaan lapar. Ketika pagi merea bertemu dengan Nabi saw dan beliau bersabda: “Sungguh Allah kagum pada perbuatan kaliandalam menjamu tamu semalam.” (HR. Bukhari Muslim)

Dari Abu Hurairah ra, ia berkata: “Rasulullah saw bersabda : “Makanan dua orang cukup untuk tiga orang, dan makanan tiga orang cukup untuk empat orang.” (HR. Bukhari dan Muslim)
Dari Abu Sa’id Al-Khudriy ra, ia berkata: “Waktu kami bepergian bersama Nabi saw, tiba-tiba datang seseorang yang berkendaraan, sambil menoleh ke kanan dan ke kiri seolah-olah mengharapkan bantuan makanan, maka Rasulullah saw bersabda: “Siapa saja yang mempunyai kelebihan kendaraan hendaklah ia memberikan kepada orang yang tidak mempunyai kendaraan, dan siapa saja yang mempunyai kelebihan bekal, hendaknya ia memberikan kepada orang yang tidak mempunyai bekal.” Kemudian beliau menyebut berbagai macam harta. Sehingga kami merasa, seolah-olah tidak seorang pun dianatara kami mempunyai hak atas kelebihan harta.” (HR. Muslim)

Dari Sahl bin Sa’d ra, ia berkata: “Ada seorang perempuan datang kepada Nabi saw memberikan selimut tenunan, seraya berkata: “Kain ini saya tenun sendiri, dengan harapan engkau senang memakainya.” Maka Nabi saw menerima dan memakainya, sebab beliau membutuhkannya. Kemudian beliau keluardan memakai selimut ini sebagai sarung. Tiba-tiba Fulan berkata: “Alangkah bagusnya selimut ini, saya ingin memakainya.” Beliau bersabda: “Setelah Nabi saw duduk ditempatnya, baliau pulang dan melipatnya, kemudian dikirim kepada orang yang menginginkannya. Orang-orang berkata kepada orang itu: “Tidak baik bagimu, sebab kain itu sangat dibutuhkan Nabi saw kemudian kamu minta. Sebenarnya kamu juga tahu, beliau tidak pernah menolak orang yang meminta.” Orang itu menjawab: “Demi Allah saya memintanya bukan untuk saya pakai, tetapi untuk saya jadikan kain kafan.” Sahl berkata: “Selimut itu memang benar menjadi kain kafannya. (HR. Bukhari)

Dari Abbu Musa Al-Asy’ariy, ia berkata: “Rasulullah saw bersabda: “Sesungguhnya orang-orang Asy’ariy, apabila persediaan mereka dalam peperangan hampir habis atau makanan bagi keluarga mereka di Madinah tinggal sedikit, maka mereka mengumpulkan sisa-sisa yang ada dalam satu kain kremudian mereka membagi-bagi nya sama rata dalam sau bejana. Mereka itu termasuk golonganku dan aku termasuk golongan mereka.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Sumber:
Riyadhus Shalihin - Imam Nawawi

Read More

14 March 2017

Al - Quran Sebagai Landasan Iptek

Al - Qur'an Sebagai Landasan Iptek

Jika dilakukan penelusuran secara seksama, paling tidak ditemukan 7 pelajaran dalam bidang iptek yang terdapat pada Al-Qur’an yaitu:

Penggalian lubang di tanah, menguburkan tanah dan menimbuninnya, seperti yang dipelajari Qabil dari perbuatan gagak, setelah ia membunuh saudara kandungnya, si Habil (Q.S. al-Maidah: 30-31

Pembuatan, melayarkan dan melabuhkan kapal oleh Nabi Nuh a.s. pada masa menjelang waktu air bah datang, sehingga terjadi banjir besar. (Q.S. Hud:36-44)

Menyucikan, meninggikan pondasi, dan membangun Baitullah oleh Nabi Ibraahim a.s., dibantu oleh Ismail (Q.S. al-Baqarah: 124-132)

Pengelolaan Sumber Daya Alam dan hasil bumi oleh Nabi Yusuf(Q.S. Yusuf: 55-56)

Pelunakan besi dan pembuatan baju besi, serta pengendalian dan pemanfaatan bukit-bukit dan burung-burung oleh Nabi Daud a.s. (Q.S.Al-Anbiya:80 dan Saba’: 10-11)

Komunikasi dengan burung, semut dan jin, pemanfaatan tenaga angin untuk transportasi, tenaga burung untuk komunikasi, mata-mata untuk tentara, pemanfaatan tenaga jin untuk tentara , penyelam laut, membangun konstruksi bangunan, patung, kolam dan pencairan tembaga oleh Nabi Sulaiman(Q.S. al-Anbiya:81-82, al-Naml:15-28, Saba’:12-13, dan Shad: 34-40)

Penyembuhan orang buta, berpenyakit lepra, dan telepati oleh Nabi Isa a.s. (Q.S. Ali-Imran:49-50, al-Maidah: 110).

Ahmad Watik praktiknya dan Muhammdi, menangkap respon umat Islam dalam mensikapi perkembangan Iptek walaupun dengan redaksi yang berbeda,  tetapi tetap dalam substansi yang sama. Menurutnya ada 2 sikap, yang pertama, melihat berbagai perkembagan iptek dan kecenderungannya secara utopisik, oportunistik berlebihan, dan beranggapan mestinya begitulah kehidupan modern. Mereka menggap perubahan iptek sebagai variable perubahan yang bersifat mutlak dan dominan. Kedua, melihat berbagai perkembagan iptek dan kecenderungannya secara mutlak secara distoistik, pesimis dan cemas belebihan. Mereka melihat  perkembangan iptek sebagai sumber bencana bagi masa depan manusia, dan penuh dengan kekhawatiran Iptek akan mencerabut kebudayaan manusia dari akarnya, mencerabut nilai-nilai kemanusiaan yang luhur.

Bagaimana dengan Al-Qur’an, apakah mengandung ajaran- ajaran tentang Iptek secara kongkrit,definitife, dan rinci? Dalam al-Qur’an ditemukan tidak kurang dari 10% ayat-ayatnya merupakan rujukan kepada fenomena alam. Namun demikian, ada 2 pandangan tentang keutuhan materi al-Qur’an yang berkenaan dengan Iptek.

Pandangan pertama, mengatakan bahwa al-Qu’an memuat seluruh bentuk pengetahuan termasuk disiplin-disiplinnya. Pandangan ini karena menempatkan al-Qur’an sebagai sumber ilmu pengetahuan dan teknologi. Tujuan utamanya adalah untuk menunjukkan mukjizat al-Quran dalam lapangan keilmuan untuk meyakinkan orang-orang non muslim akan keagungaan dan keunikan  al-Qur’an, dan untuk menjadikan kaum muslimin bangga memiliki kitab suci. yang masuk dalam kelompok pertama ini misalnya Al-Ghazali, dalam kitab Ihya ‘Ulum al-Din, ia mengutip kata-kata ibnu Mas’ud:”Jika seseorang ingin memiliki pengetahuan masa lampau dan pengetahuan modrn, selayaknya dia merenungkaan Al-Qur’an.

Tokoh lainnya adalah, al-Suyuthi dalam Kitabnya, al-Itqan fi ‘Ulum al-Qu’an, mengatakan al-Qur’an mencakup ilmu baik yang bersifat klasik maupun yang tergolong modern.(Q.S.al-An’am:38,an-Nahl:89). Juga dikemukakan oleh Abd. Al-Rahman al-kawakibi dalam kitabnya Thab’ al-Istibdad ( Hakikat Depotisme): “pada abad-abad sekarang, sains telah mengungkapkan berbagai fakta dan ini semua dinisbahkan pada penemunya, orang-orang Eropa dan Amerika. Tapi mereka yang menelaah Al-Qur’an dengan cermat  akan menemukan bahwa fakta-fakta tersebut dinyatakan secara eksplisit dan implicit dalam al-Qur’an sejak 13 abad yang lalu. Begitu juga dengan Maurice Bucaille dalam bukunya , The Bible, The Qurr’an, and The Science, lebih tegas mengatakan bahwa, “al-Qur’an memiliki kesesuaian yang sempurna dengan sains modern, pengetahuan sains modern memberi kesempatan untuk memahami ayat-ayat al-Qur’an, dimana ayat-ayat itu sampai dewasa ini tidak mungkin ditafsirkan”.

Pandangan kedua mengatakan bahwa tidaklah benar menafsikan kata-kata al-Qur’an dengan cara yang tidak diketahui oleh orang-orang Arab pada masa Nabi, al-Qur’an tidak diwahyukan untuk mengajari kita sains dan teknologi, tapi merupakan kitab petunjuk. Masalah Iptek diluar tujuan diwahyukan al-Qur’an, sains belum mencapai tingkat keemajuan yang sempurna, maka tidak benar menafsirkan al-Qur’an menurut teori-teori yang dapat berubah, dan sudah menjadi kehendak Allah,manusia dapat menemukan rahasia-rahasia alam dengan menggunakan indera dan daya intelektualnya.

Dua pandangan yang terlihat kontradiktif tersebut, ada pandangan ketiga yang dikemukakan oleh Syikh Musthafa al-Maraghi, dalam pengantar buku Ismail Pasha berjudul Islam and Modern Medicine. Dikatakan “Bukanlah maksud saya untuk mengatakan bahwa Kitab Suci ini mencakup secra rinci atau ringkas seluruh sains dalam gaya buku-buku teks, tapi saya ingin mengatakan bahwa al-Qur’an mengandung prinsip umum”.

Yang perlu digaris bawahi dari berbagai pandngan di atas adalah bahwa al-Qu’an tetap diletakkan sebagai kitab petunjuk dalam kehidupan manusia yang di dalamnya terdapat prinsip-pinsip umum dan etik tentang iptek. Sementara perumusan dan perincian iptek sampai pada tingkat penerapannya tergantung pada manusia itu sendiri. Karena manusia dengan akalnya mampu membedakan yang baik dan benar, yang membawa maslahah atau kehancuran. Tapi ingat, semua yang dikerjakan oleh manusia akan dimintai pertanggungjawaban di hadadap Allah. Jika ia mengembangkan iptek untuk kemaslahatan umat manusia (baik) maka surge balasannya sementara kalau iptek digunakan untuk menghancurkan peradaban umat manusia, neraka sebagai tempat kembalinya.

Sumber :
Islam dan Iptek - Dr. Sudarno Shobron, M.Ag.


Read More

12 Adab Yang Baik Ketika Berdoa

12 Adab Yang Baik Ketika Berdoa

Berdoa adalah kita memohon atau meminta sesuatu kepada Allah  baik untuk kebaikan dunia maupun untuk kebaikan di akhirat. Kita sebagai manusia perlu menyadari bahwa kita ini sangat lemah, tidak ada apapun yang bisa kita perbuat melainkan Allah lah yang mengizinkan kita berbuat. Kekuatan semata - mata hanya milik Allah.

Ketika sudah menyadari bahwa kita tidak bisa berbuat apa - apa, maka sudah seharusnya untuk selalu berdoa. Memohon segala sesuatu yang baik bagi diri kita, untuk dunia maupun untuk akhirat. Yang perlu kita ketahui juga yaitu bahwa di dalam berdoa juga terdapat adabnya, karena yang kita berhadapan dengan zat yang Maha Agung yang menguasai dunia dan seisinya. Untuk itu sebagai hamba yang baik, perlu kita ketahui adab - adabnya

Berdoa memiliki beberapa adab yang seyogianya diperhatikan, kami akan menguraikannya sebagai berikut:


1. Mencari usaha yang halal
Dalam Shahih Muslim disebutkan, Abu Hurairah ra meriwayatkan bahwa Rasulullah saw bersabda:
“Wahai manusia, sesungguhnya Allah saw baik, tidak menerima kecuali yang baik. Dan sesungguhnya Allah memerintahkan orang beriman sebagaimana dia memerintahkan para Rasul-Nya dengan firmannya: Wahai para rasul makanlah yang baik-baik dan beramal shalihlah. Dan Dia berfirman: Wahai orang-orang yang beriman, makanlah yang baik-baik dari apa yang Kami rezekikan kepada kalian. Kemudian beliau menyebutkan ada seseorang melakukan perjalanan jauh dalam keadaan kumal an berdebu. Ia memanjatkan kedua tangannya ke langit seraya berkata, ‘Ya Rabbku, padahal makanannya haram, minumannya haram, pakaiannya haram, dan kebutuhannya dipenuhi dari sesuatu yang haram, maka (jika begitu keadaannya) bagaimana doanya akan dikabulkan!” (HR. Muslim)

2. Menghadap kiblat jika mampu
Karena, Nabi saw pernah keluar untuk melaksanakan shalat istisqa’, maka beliau berdoa dan memohon turunnya hujan sambil menghadap kiblat

3. Memerhatikan waktu yang tepat dan kondisi-kondisi yang utama
Misalnya hari Arafah, bulan Ramadhan, hari Jum’at, sepertiga malam yang terakhir, waktu menjelang Shubuh, dis ela-sela sujud, saat turun hujan, antara azan dan iqamah, ketika pertemupuran berkecamuk, ketika ketakutan, dan sedang sedih.

4. Mengangkat kedua tangan
Diriwayatkan dari Salman bahwa Nabi saw bersabda,
“Sesungguhnya Rabb kalian yang Mahasuci dan Mahatinggi adalah Maha Hidup lagi Pemurah. Dia merasa malu terhadap hamban-Nya jika ia menengadahkan tangan kepada-Nya, lalu menolaknya dengan tangan hampa.” (HR. Abu Dawud, Tirmidzi dan lainnya)

5. Memulai doa dengan memuji Allah, menganggungkan, dan menyanjung-Nya serta bershalawat atas Nabi saw
Hal ini berdasarkan hadits yang diriwayatkan Abu Dawud, Nasa’i, dan Tirmidzi dan dinyatakan shahih olehnya dari Fadhalah bin Ubaid bahwa Rasulullah saw mendengar seseorang berdoa usai mengerjakan shalat tanpa mengagungkan Allah dan mengucapkan shalawat kepada Nabi, maka beliau bersabda,
“Orang ini tergesa-gesa. “kemudian beliau memanggil orang itu dan beliau bersabda kepadanya- atau juga kepada orang selainnya-, “Bila salah seorang diantara kalian berdoa hendaklah ia memulainya dengan mengagungkan Rabbnya serta menyanjung-Nya, kemudia mengucpkan  shalawat atas Nabi saw. Sesudah  itu barulah ia berdoa meminta apa saja yang ia kehendakki.”

6. Menghadirkan hari, menampakkan kerendahan dan kebutuhan kepada Allah, serta melirihkan suara antara pelan dan keras
Allah berfirman,
“Berdoalah kepada Rabbmu dengan berendah diri dan suara yang lembut. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang melampaui batas.” (Al-A’raf:55)

7. Doanya tidak mengandung dosa atau memutuskan tali silaturahim
Hal ini berdasarkan hadits yang diriwayatkan oleh Ahmad dari Abu Sa’id bahwa Nabi saw bersabda:
“Tidak ada seorang muslim yang berdoa kepada Allah Azza wa Jalla yang doanya tidak mengandung dosa atau bermaksud memutuskan silaturahim, kecuali Allah akan memberinyasalah satu diantara tiga perkara; 1) Dia mengabulkan doa itu segera, 2) Dia menangguhkannya untuk menjadi simpanannya di akhirat, 3) Dia menghindarkannya dari bahaya yang sebanding dengan apa yang dimintanya. “Mereka bertanya, “Bagaimana jika kami banyak berdoa?” Nabi saw menjawab, “allah akan lebih memperbanyak lagi.”

8. Tidak menganggap doanya lambat dikabulkan
Hal ini berdasarkan hadits yang diriwayatkan oleh Abu Hurairah bahwa Nabi saw bersabda: “Doa seseorang akan dikabulkan Allah selama orang itu tidak terburu-buru lalu berkata, ‘Aku telah berdoa, tetapi Allah tidak juga mengabulkan doaku.”

9. Berdoa dengan keinginan yang pasti agar dikabulkan
Hal ini berdasarkan hadits dalam riwayat Bukhari dan Muslim dari Abu Hurairah ra bahwa Rasulullah saw bersabda:
“Janganlah seorang diantara kalian mengatakan, “Ya Allah, ampunilah aku jika Engkau menghendakinya. Ya Allah, rahmatilah Aku jika Engkau menghendakinya.” Tujuannya adalah untuk memperkuat permohonannya itu karena  Allah, yang tak seorangpun dapat memaksa-Nya.”


10. Memilih kalimat-kalimat yang pendek tapi sarat makna
Misalnya:
“Ya Rabb kami, berilah kami di dunia kebaikan dan juga di akhirat nanti, dan lindungilah kami dari siksa neraka.”
Nabi saw menyukai doa yang pendek tapi sarat makna dan meninggalkan selainnya.

11. Tidak mendoakan keburukan atas diri sendiri, keluaga, hartanya
Jabir ra meriwayatkan bahwa Rasulullah saw bersabda:
“Janganlah engkau berdoa buruk terhadap dirimu, begitu juga anak-anakmu, pelayan-pelayanmu dan harta bendamu. Jangan sampai nanti doamu itu bertepatan dengan saat ketika Allah bisa memenuhi permohonan, hingga doa burukmu itu akan benar-benar terkabul.” (HR. Muslim)

12. Mengulang-ulang doa hingga tiga kali
Abdullah bin Mas’ud ra meriwayatkan bahwa Rasulullah sering kali berdoa dan membaca istighfar sebanyak tiga kali. (HR Ahmad dan lainnya)
Istighfar sebaiknya dimulai dari diri sendiri. Allah swt berfirman:
“Ya Rabb kami, beri ampunlah kami dan saudara-saudara kami yang telah beriman lebih dulu dari kami.” (Al-Hasyr:10)

Sumber: Kitab Mukhtashar Fiqih Sunnah Sayyid Sabiq  ditulis oleh Sulaiman Al-Faifi

Read More

13 March 2017

Aqidah : Tidak Ada Keraguan Dalam Kebenaran

Aqidah : Tidak Ada Keraguan Dalam Kebenaran

Menurut Hasan Al-Banna aqidah adalah beberapa perkara yang wajib diyakini kebenarannya oleh hati, mendatangkan ketrentaman dalam  jiwa, menjadi keyakinan yang tidak bercampur sedikitpun dengan keragu-raguan. Menurut Abu Bakar Jabir al-Jazairy aqidah adalah sejumlah kebenaran yang dapat diterima secara umum oleh manusia berdasarkan akal, wahyu dan fitrah.

Dari kedua definisi tersebut dapat dijelaskan point penting berikut:

Sejumlah kebenaran yang dapat diterima secara umum oleh manusia maknanya Ilmu(kebenaran) dibagi menjadi dua, yaitu ilmu dlarury dan ilmu nazhary. Ilmu yang dihasilkan oleh indra dan tidak memerlukan dalil disebut ilmu dlarury, sedangkan ilmu yang memerlukan dalil atau pembuktian disebut ilmu nazhary.

Setiap manusia memiliki fitrah untuk mengakui kebenaran, maknanya indra untuk mencari kebenaran,akal untuk menguji kebenaran dan wahyu untuk menjadi pedoman dalam menentukan mana yang benar dan mana yang tidak.

Keyakinan tidak boleh bercampur sedikitpun dengan keraguan. Sebelum seseorang sampai ke tingkat yakin (ilmu) ia akan mengalami terlebih dahulu 3 tingkatan :

  1. Syak, (ragu), yaitu sama kuat antara membenarkan sesuatu atau menolaknya.
  2. Zhan, yaitu salah satu lebih kuat sedikit dari yang lainnya karena ada dalil yang menguatkannya.
  3. Ghalabatuzh zhan, yaitu cenderung lebih menguatkan salah satu karena sudah meyakini dalil kebenarannya.
  4. Yakin/ilmu, yaitu keyakinan yang tidak bercampur sedikitpun dengan keraguan, keyakinan yang sudah sampai pada tingkat ilmu inilah yang disebut dengan ‘aqidah.

Aqidah harus mendatangkan ketrentaman jiwa, artinya sesuatu keyakinan yang belum dapat menentramkan jiwa berarti bukan aqidah.

Menolak segala sesuatu yang berlawanan dngan kebenaran, artinya bila seseorang sudah meyakini suatu kebenaran, dia harus menolak segala sesuatu yang bertentangan dengan kebenaran itu.

Tingkat keyakinan (aqidah) seseorang tergantung kepada tingkat pemahamannya terhadap dalil.
Sebagian ulama berpendapat bahwa pembahasan pokok aqidah Islam berkisar pada aqidah yang terumuskan dalam rukun iman yang enam yaitu :

  • Iman kepada Allah
  • Iman kepada malaikat Allah
  • Iman  kepada Nabi dan Rasul Allah
  • Iman kepada kitab Allah
  • Iman kepada hari akhir dan 
  • Iman kepada Qada dan Qadar

Adapun sumber-sumber aqidah adalah Al-Qur’an dan As-Sunnah dan tingkatan aqidah seseorang berbeda-beda, yaitu tingkat taqlid, ‘ilmu al-yaqin, ‘ain al-yaqin, dan haqul  yaqin.


  • Tingkat taqlid berarti menerima suatu kepercayaan dari orang lain tanpa diketahui alasannya. Sikap ini dilarang oleh agama islam sebagaimana disebutkan dalam Firman Allah :

“Dan janganlah kamu mengikuti sesuatu yang tidak kamu ketahui. Karena pendengaran, penglihatan, dan hati nurani, semua itu tidak akan diminta pertanggungjawabannya”( Q.S. Al-Isra:36)

  • Tingkatan yang kedua yaitu ‘ilmu al-yaqin, maksudnya suatu keyakinan yang diperoleh berdasarkan ilmu yang bersifat teoritis. Sebagaimana disebutkan dalam Firman Allah :

“Bermegah – megahan telah melalaikan kamu kamu. Sampai kamu masuk dalam kubur. Sekali – kali tidak! Kelak kamu akan mengetahui (akibat perbuatanmu itu). Kemudian sekali – kali tidak! Kelak kamu akan mengetahui. Sekali – kali tidak! Sekiranya kamu mengetahui dengan pasti”( Q.S. At-Takatsur:1-5)

  • Tingkatan yang ketiga yaitu ‘ain al-yaqin, maksudnya suatu keyakinan yang diperoleh melalui pengamatan mata kepala secara langsung tanpa perantara. Hal ini disebutkan dalam Firman Allah :

“Niscaya kamu akan benar – benar melihatnya dengan mata kepala sendiri. Kemudian kamu benar – benar akan ditanya pada hari itu tentang kenikmatan (yang megah di dunia itu)”( Q.S. Al-Takatsur:6-7)

  • Tingkat ke empat yaitu haqul al-yaqin , maksudnya suatu keyakinan yang diperoleh melalui pengamatan dan penghayatan pengalaman empiris. Sebagaimana disebutkan dalam Firman Allah :

“Jika dia (orang yang mati) itu termasuk yang didekatkan (kepada Allah). Maka dia memperoleh ketentraman dan rezeki serta surga (yang penuh) kenikmatan. Dan adapun jika dia termasuk golongan kanan. Maka, ‘Salam bagimu (wahai) dari golongan kanan!’ (sambut malaikat). Dan adapun jika dia termasuk golongan orang yang mendustakan dan sesat. Maka dia disambut siraman air yang mendidih. Dan dibakar didalam api neraka. Sungguh, inilah keyakinan yang benar. Maka bertasbihlah dengan (menyebut) nama Tuhanmu Yang Maha Besar”(Q.S. al-Waqiah:88-96)

Sumber :
Agama - Dr. Imron Rosyadi M.Ag.

Read More

12 March 2017

Anak - Anak dan Sholat Lima Waktu

Anak dan Sholat Lima Waktu

Ninik, seorang ibu dari siswa, “Assalamu’alaikum.”

“Wa’alaikumussalam.”

“Pak, sudah tiga hari ini anak saya rajin shalatnya, Shubuh juga. Setelah saya tanya, ternyata disuruh Pak Iqbal. Padahal kalau ibunya yang nyuruh, susahnya minta ampun! Alhamdulillah. Terima kasih ,Pak!”

“Iya Bu, sama-sama. Semoga perilaku ini menetap dan makin tambah rajin.”

“Ya, Pak, aamiin, ya rabbal‘alamin.”

Sekelumit percakapan dengan wali murid ini mungkin dianggap biasa bagi orang lain, namun sangat berarti bagi saya. Bertahun-tahun berjuang di SD Khadijah Pandegling, bertahun-tahun juga saya memperhatikan, pelaksanaan shalat lima waktu bukanlah hal yang ringan, terutama bagi para murid.

Shalat yang sangat berat dilaksanakan adalah shalat Shubuh dan Isya. Shalat Shubuh berat dilaksanakan karena mereka sulit sekali bangun pagi. Sementara, shalat Isya berat dilakukan karena beberapa alasan, anatar lain, mereka sudah terkantuk-kantuk karena sudah malam atau terlena karena nonton TV sampai ketiduran.

Sebagai kepala sekolah, ini tentu meresahkan saya. Saya terus memutar otak memikirkan bagaimana caranya agar mereka mau dan mampu melaksanakan shalat lima waktu. Satu hal yang perlu menjadi catatan penting: saya tetap bersyukur karena selluruh murid mau menjawab dengan jujur ketika ditanya, “Apakah kamu shalat lima waktu?” Kejujuran ini terpelihara karena setelah pertanyaan itu, tidak pernah ada ancaman hukuman dari sekolah dan tidak ada kemarahan atas setiap jawaban yang diberikan, apapun jawaban mereka. Kami sangat menghargai kejujuran mereka, kami menanamkan kejujuran itu. Dan, kami tidak memberikan hukuman atas kejujuran mereka. Alhamdulillah, mereka jujur dan bilang kalau masih belum bisa melaksanakan shalat lima waktu.

Kembali ke strategi yang coba diterapkan. Pada kenyataannya, tidak cukup satu strategi untuk membangkitkan semangat shalat lima waktu. Strategi bertanya ketika berbaris di pagi hari membawa hasil, walaupun tidak sebanyak yang saya harapkan.

Munculah strategi saya berikutnya, yaitu dengan lompat pocong, nama yang aneh, mungkin, untuk sebuah ajakan shalat lima waktu. Saya mencoba mengajak para murid membentuk dua kelompok. Kelompok pertama adalah kelompok yang susah menjalankan shalat lima waktu dan kelompok kedua adalah yang belum menjalankan shalat lima waktu ramailah keadaan karena mereka memisahkan diri sesuai kelompoknya dengan loncat seperti pocong , bukan jalan seperti biasa.

Alhamdulillah setelah beberapa kali saya lakukan, strategi ini rupanya terlihat berhasil. Perlahan-lahan, jumlah kelompok yang sudah shalat lima waktu semakin banyak. Strategi ini rupanya juga dilaksanakan dengan senang hati oleh segenap murid. Mereka melakukannya dengan tersenyum. Maka, dalam kesempatan itu, saya menyampaikan pentingnya shalat lima waktu.

Setelah kegiatan ini berakhir, ternyata Kevin tidak langsung masuk ke kelas. Sendirian dia datang ke kantor saya dan mengajukan petanyaan,

“Pak, bagaimana caranya supaya bisa bangun subuh?

“Kamu biasanya bangun jam berapa?” saya balik bertanya

“Saya bangun jam setengah enam, Pak.’

“Lho, tidurnya jam berapa?”

“Saya tidur jam delapan, Pak...”

“Ok, kalau begitu, sebelum tidur kamu baca bismillah 20 kali, minta pada Allah supaya bisa bangun subuh!”

Di waku lain. Saat peringatan Maulid Nabi Muhammad saw. Saat itu, seluruh murid diminta untuk membayangkan, seandainya bisa bertemu dengan Rasulullah, apa yang akan ditanyakaan? Ternyata, satu pertanyaan mengejutkan datang dari seorang murid kelas 6 yang bernama Mizan. Dia ingin bertanya Rasulullah, “Bagaimana caranya bisa bangun subuh?”

Sungguh motivasi internal semacam kevin dan Mizan, maupun murid yang lain semacam ini yang kita harapkan, bukan motivasi eksternal, yang hanya mau  shalat jika dimarahi atau dibentak. Ya, begitulah gugur, tidak ada sesuatu yang instan, perlu terus- menerus mengingatkan murid agar tidak terlena meninggalkan shalat lima waktu. Semoga, semakin banyak murid yang shalat lima waktu.

Semoga semakin hari banyak murid yang shalat lima waktu setelah kegiatan ini diulang beberapa kali.

Sumber:
Romantilka Membangun Sekolahnya Manusia - Muhammad Iqbal

Read More

Nasihat Untuk Menghadapi Ujian

Nasihat Untuk Menghadapi Ujian

Nasihat Untuk Menghadapi Ujian - Jika Anda masuk ruang ujian, ucapkanlah bacaan basmallah. Bacalah soal-soal ujian dengan penuh ketenangan, jangan tergesa-gesa. Mulailah mengerjakan soal yang paling mudah, kemudian soal yang lebih sulit dari pertama. Ini semua penting diperhatikan agar syaraf-syaraf tubuh tidak tegang dan akhirnya waktu Anda terbuang sia-sia.

Nasihat inilah yang biasa kita dengar dari orang tua dan para guru kita yang harus kita perhatikan setiap waku sebelum kita memasuki ruang ujian. Tujuan nasihat ini adalah agar tidak ada rasa takut ketika menghadapi ujian. Juga untuk mengusir rasa takut yang bisa membuat tegang saraf kita, sehingga waktu tidak terbuang sia-sia dan ujian tidak terlewatkan begitu saja.

Kawan, begitulah keadaan dunia ini. Kehidupan dunia tidak lain hanyalah ujian yang telah ditakdirkan oleh Allah, baik atas orang mukmin atau orang kafir, yang jujur atau yang dusta, yang terpercaya atau khianat. Jika nasihat ini sangat berguna untuk menjalani ujian akademik, ia juga sangat dibutuhkan untuk menghadapi ujian kehidupan yang lebih besar.

Tidak ada yang lebih menjanjikan indahnya dan manisnya kehidupan kecuali jika kita bersikap positif terhadap harapan dan cita-cita kita, melupakan penderitaan masa lalu, bersemangat ,menyambut hari bahagia, membuang memori kepedihan, menghiasi diri dengan kesiapan mengarungi bahtera kehidupan, membuang jauh keputusasaan dan kebosanan, mengubah semua sikap negatif menjadi sikap positif, juga menghidupkan upaya tiada henti untuk berubah.

Lalui kehidupan ini dengan optimisme!

Bagaimana mungkin menjadi optimis dan mampu mengubah keadaan jika tidak optimis dengan hasil yang akan diraih.

Bagaimana mungkin yakin akan harapan-harapan kita jika kita tidak optimis dan merasa yakin dengan cita-cita kita?

Optimis membantu kita untuk menjadi pelipur lara dan pengembira disaat duka. Optimis mampu mencabut diri dari kubangan kekhawatiran dan bayang-bayang kegagalan yang begitu pahit. Optimis membantu dalam keadaan lemah semangat dan hilang harapan.

Optimislah! Maka Anda akan dapat suplai bahan bakar yang menyalakan secercah harapan.

Optimislah dengan hidup anda, karena jika kita saja meragukannya bagaimana orang lain memandangnya?

Optimislah dan positif thingking lah terhadap hidup ini!!

Sumber:
Dahsyatnya Optimis - Mustofa Kamal


Read More

11 March 2017

Berpikirlah Bahwa Aku Bisa

Berpikirlah Bahwa Aku Bisa

Berpikirlah Bahwa Aku Bisa - Perubahan adalah sebuah keniscayaan. Sesuatu yang pasti terjadi. Tak ada yang tetap didunia ini, kecuali kata perubahan itu sendiri. Jadi, segala sesuatu pasti akan berubah. Meskipun kita tidak berubah, kita akan diubah oleh sebuah mekanisme perubahan, baik yang berjalan alamiah, maupun yang ditentukan oleh orang menjadikan perubahan itu sebagai sesuatu-orang di sekitar kita. Allah berfirman,
“Allahlah yang menciptakan kamu dari keadaan lemah, kemudian Dia menjadikan (kamu) setelah keadaan lemah itu menjadi kuat, kemudian Dia menjadikan (kamu) setelah kuat itu lemah (kembali) dan beruban...” (QS. Ar-Rum:54)
Ayat tersebut menunjukkan, bahwa manusia mengalami 3 fase kehidupan. Pertama, fase lemah pertama, yaitu masa kanak-kanak hingga awal dewasa. Kedua, fase kuat, yakni saat seseorang memasuki usia dewasa. Ketiga, fase lemah kedua, yakni saat seseorang memasuki usia senja. Masa-masa remaja, adalah masa transisi dari fase lemah pertama manuju fase kuat. Kesuksesasan seorang manusia saat menjalani fase kuat, sangat dipengaruhi dari apa yang kita lakukan di masa transisi ini.

“Jika engkau ingin mengubah sesuatu, maka ubahlah dirimu terlebih dahulu. Dan sebelum engkau mengubah dirimu, rubahlah terlebih dahulu persepsimu.” (Stephen Covey)
Oleh karena sama-sama akan berubah, mengapa kita tidak menjadikan perubahan itu sebagai sesuatu yang kita rencanakan? Perubahan yang terencana, pastilah sebuah perubahan yang produktif.

Jadi mari kita berubah!! Berubah menjadi luar biasa! Dimulai dari proses berpikir kita. Dari bagaimana kita berpersepsi terhadap diri sendiri.
Lantas, apa persepsimu terhadap dirimu?

“Aku ini bodoh, sama sekali nggak membanggakan, nggak punya prestasi apapun.”

STOP!

Mengapa tega menzalimi diri sendiri dengan berpikir negatif tentang diri kita. Jka memang persepsi kita selama ini seperti itu wajar jika diri kita merasa terpuruk sebagai manusia yang nggak berprestasi

Sekarang juga anda harus berpikir bahwa Aku Bisa!

Karena kamu bisa jika berpikir bisa! Akan gagal jika berpikir gagal. Begitu juga ketika kita berpikir bahwa kita ini bodoh. Allah sendiri befirman dalam hadist qudsi yang diriwayatkan oleh Abi Hurairah,
“Aku selalu mengikuti prasangka hamba-Ku...” (HR. Bukhari dan Muslim)
Dengan begitu jelas sekali bahwa jika kita menyangka diri kita bodoh, maka begitu juga prasangka Allah terhadap kita.

Jadi mari berpikir positif tentang kita. Bahwa Kita ini pasti bisa!!

Sumber:
Juara sepanjang Masa - Afifrah Afra
Read More