Showing posts with label Islam. Show all posts
Showing posts with label Islam. Show all posts

30 March 2017

Bagaimana Orang Beriman Memandang Kehidupan Dunia


Bagaimana Orang Beriman Memandang Kehidupan Dunia

Kehidupan dunia berikut kekayaannya, yang tak berharga dan yang amat kecil itu, memang sengaja dijadikan indah oleh Allah di mata orang-orang kafir. Demikian indahnya, sehingga mereka terpesona, enggan meninggalkannya, dan enggan melihat lebih jauh kepada hal-hal yang berada di belakangnya. Mereka tidak mengetahui nilai-nilai selain nilai duniawiyah itu.

Orang yang terpagar oleh ruang lingkup kehidupan duniawi ini, konsepsinya tidak mungkin dapat menjangkau kepentingan luhur yang disandang oleh seorang mukmin. Mereka tidak akan mampu menatap wawasan yang lebih jauh.

Seorang mukmin sering menganggap kecil kekayaan duniawiyah. Ini bukan karena mereka tidak merasa berkepentingan terhadapnya, juga bukan karena mereka bersikap vatalis yang tak ingin mengembangkan kehidupan. Akan tetapi, selain karena melakukan tugas sebagai khalifah di muka bumi, juga karena memandang “ kehidupan dunia” dari “atas mizan(tolok ukur) Allah”.

Orang-orang kerdil seperti orang-orang kafir yang tenggelam dalam lumpur kehidupan duniawi itu memandang orang-orang beriman secara skeptis. Mereka memandang orang-orang beriman itu seakan menganggap kecil kehidupan dunia dan menjauhi harta kekayaan.

Orang-orang kafir itu juga melihat orang-orang beriman hidup merana, berada dalam kesulitan, dan bahkan menolak kelezatan hidup dunia yang justru dianggap kecil oleh orang-orang beriman karena adanya tujuan yang lebih luhur.

Orang-orang kafir melihat semua itu bahwa orang-orang beriman adalah orang-orang hina dan gembel. Mereka tidak mengetahui rahasia dan cita-cita orang mukmin yang mulia. Oleh karenanya, wajar saja bila mereka memandang orang-orang mukmin itu hina, baik keadaanya, konsepsinya, maupun cara hidup yang ditempuhnya.

Mereka lupa bahwa mizan(tolok ukur) yang mereka pakai itu bukan mizan yang hak. Dalam menilai orang-orang mukmin, mereka menggunakan mizan dunia, mizan jahiliyah. Padahal mizan yang haq itu berada di tangan Allah. Allah melebihkan bobot mizan orang beriman menurut mizanNya.

Itulah mizan yang haq, yang ada di sisi Allah. Dengan demikian orang-orang mukmin mengetahui secara jelas arti nilai hakiki mereka dalam timbangan Allah. Yang penting, orang-orang mukmin harus maju terus tanpa perduli pada kedunguan orang-orang yang dungu. Kita tak perlu ambil pusing terhadap hinaan siapapun dan penilaian yang diberikan oleh orang-orang kafir.

Orang-orang beriman jelas lebih mulia dalam pandangan Allah di hari kiamat kelak. Mereka lebih mulia menurut kesaksian Allah Yang Maha Adil ketetapan hukumNya.

Allah melimpahkan kepada orang-orang beriman apa yang terbaik untuk mereka. Allah akan mencukupi seluruh rezeki mereka, dan menganugerahkan apa yang dipilihkan-Nya untuk mereka, baik di dunia maupun di akhirat sesuai dengan apa yang di pandangNya baik bagi mereka.

Allah adalah zat Yang Maha Memberi, Maha Menganugerahi nikmat kepada siaapa yang dikehendakinya, Allah melimpahkan Rahmat-Nya kepada orang yang dikehendakiNya. Diberikan-Nya sendiri semua itu tanpa ada orang yang bisa menilai apa yang dianugerahiNya. Di samping itu, seringkali karena adanya hikmat tertentu, Allah juga memberikan kenikmatan duniawi kepada orang-orang kafir. Namun apa yang diberikan-Nya kepada mereka tersebut tak ada istimewanya sama sekali. Allah memberikan kenikmatan kepada siapa saja yang dikehendakiNya dan yang dipilihNya, baik kenikmatan duniawi maupun ukhrawi. Semua anugrah itu datang dari sisi Allah semata, dan apa yang dipilihkan-Nya untuk orang-orang pilihan itu adalah suatu anugrah yang kekal dan mulia.

Kehidupan selamanya akan diwarnai oleh dua model manusia ini, yakni kelompok orang-orang beriman yang menerima nilai-nilai, mizan dan konsepsi Allah SWT (yang selanjutnya membebaskan mereka dari kekejian dan kekayaan dunia serta tujuan-tujuan remeh), dan sekelompok manusia yang menjadiakn kehidupan dunia indah di dalam pandangannya, sehingga mereka tak segan-segan menghambakan diri demi kekayaan dan nilai-nilainya (karena itu kepentingan dunia selalu menjeratnya).

Dari tempat yang tinggi, kaum muslimin selalu bisa menyaksikan orang yang terperosok itu, betapapun banyaknya harta dan kekayaan yang mereka miliki. Sementara orang-orang kafir merasa bahwa diri mereka telah dianugerahi kenikmatan-kenikmatan. Bahkan menurut pandangan mereka, orang mukmin adalah orang yang tidak mampu memperoleh kelezatan dunia tersebut,. Oleh karena itu mereka terkadang tak segan-segan menindas kaum mukmin, dan dalam kesempatan lain memandang hina, padahal sebenarya mereka sendirilah yang justru paling berhak menduduki kehinaan.

Sumber :
Hidup Damai Dalam Islam - Sayyid Quthb

Read More

23 March 2017

Fungsi Pakaian Dalam Islam


Fungsi Pakaian Dalam Islam

Qur’an surat Al-A’raf ayat 26 yang tertera dalam al-Qur’an menjelaskan tentang fungsi pakaian, yaitu untuk menutup aurat, dan sebagai perhiasan. Q.S al-Nahl ayat 81 menjelaskan bahwa fungsi pakaian adalah untuk perlindungan. Sedangkan Q.S. al-Ahzab ayat 59 menjelaskan bahwa fungsi pakaian adalah sebagai identitas kemusliman atau kemuslimahan seseorang. Dari tiga ayat tersebut, ada 4 fungsi yakni

Menutup aurat. Aurat adalah perkataan Arab ‘awrah, yang oleh Al-Tsa’libi dalam kitabnya yang berjudul Fiqh al-lughah dijelaskan bahwa aurat adalah segala sesuatu yang memalukan karena terbukanya, disebut aurat. Sedangkan Ibrahim Anis dalam kitabnya Al-Mu’jaam al-wasith mendefinisikan aurat yaitu setiap yang ditutup manusia, karena benci melihatnya atau karena malu terlihat. Maka segala sesuatu yang membuat orang malu melihatnya dan membukanya didepan orang lain adalah aurat.

Sebagai perhiasan. Fungsi yang kedua ini menunjukkan begitu besar Islam memperhatikan keindahan. Keindahan atau estetika merupakan salah satu fitrah manusia di antara fitrah lainya. Setiap manusia senang kepada keindahan, namun ada yang memenuhi fungsi pertama saja. Yakni yang penting mentup aurat,tetapi ada juga berpakaian harus serasi antara badan, warna kulit, dan bahan pakaiannya, model serta di mana dalam acara apakah pakaian itu dikenakan. Begitu lengkap ajaran islam sebagaimana dalam Q.S.al-Maidah:3, dalam hal pakaian secara rinci dijelaskan sesuai dengan fitrah manusia.

Untuk perlindungan. Pakaian juga berfungsi untuk melindungi kulit dari sengatan matahari, dinginnya cuaca, sehingga suhu badan tetap terjaga. Maka pakaian dapat menjaga kesehatan manusia,tidak mudah terkena penyakit kulit,  iritasi kulit, terjangkitnya virus dsb. Bahkan dalam peperangan sekalipun, pakaian memiliki fungsi yang sangat penting.hal itu terdapat  dalam QS al-Nahl:81.

Sebagai identitas. Untuk membedakan wanita muslimah dan non muslim adalah pakaian yang dikenakan. Jika wanita mukmin mereka akan memakai pakaian muslimah kapan dan dimanapun mereka berada. Adapun ciri-ciri pakaian yang dikenakan bagi setiap  muslim dan muslimah adalah, bagi laki, batasan minimal untuk menutup badannya adalah antara pusar dan lutut, dan bagi perempuan adalah seluruh anggota badan kecuali wajah dan telapak tangan.

Sumber :
Etika & Mode Berpakaian Menurut Syariat Islam - Dr. Abdullah Aly, M.Ag.(salah satu penulis)
Read More

21 March 2017

Bimbang Dan Ragu Adalah Sifat Khas Bani Israil


Bimbang Ragu Sifat Bani Israil
Allah berfirman dalam surat Al-Baqarah: 21 yang isinya menjelaskan bahwa Allah kembali mengajukan pertanyaan tentang berapa banyak  tanda kebenaran yang telah Allah tampakkan. Ini merupakan suatu hal yang wajar, sebab persoalannya di sini terdapat peringatan tentang sifat khas mereka, yakni selalu bimbang dan ragu serta menolak menyambut seruan Allah. Mereka bersikap  memberontak dan menolak masuk dalam kedamaian (Islam) secara total, bersikap sinis dan banyak bertanya, lalu tenggelam dalam pembangkangan dan kebandelan.

Itulah jalan yang licin yang menggelincirkan. Oleh karenanya kaum muslimin diperingatkan Allah. Ini dimaksudkan agar kaum muslimin selamat dari akibat yang pernah dialami oleh Bani Israil.
Pertanyaan di sini, boleh jadi tidak terbatas hanya pada hakikat pertanyaan itu saja. Namun lebih merupakan salah satu metode penjelasan yang diperbolehkan Al- Qur’an guna mengingatkan banyaknya ayat-ayat yang telah didatangkan Allah kepada bani Israil dan hal-hal di luar kebiasaan yang berlaku untuk mereka,baik itu atas permintaan mereka maupun yang datang dari sisi Allah karena adanya suatu hikmah yang bakal datang.

Akan tetapi, kendatipun sudah demikian banyak  hal-hal yang luar biasa yang terjadi pada mereka,  toh tetap saja mereka ragu dan dan bimbang, membandel dan menolak masuk dalam kedamaian Islam yang berpayungkan iman. Lalu, disampaikanlah akibat yang bersifat umum yang pasti akan mereka alami. “ Dan barang siapa mengganti nikmat Allah sesudah itu datang kepadanya, maka sesungguhnya Allah maha keras siksanya”. Nikmat Allah yang diisyaratkan di dalam ayat ini adalah nikmat Islam dan iman. Keduanya identik.

Peringatan yang dialamatkan kepada mereka yang menggantikannya, pertama-tama pembuktiannya dapat dijumpai dalam hal ikhwal bani Israil, dan terhijabnya mereka memperoleh kedamaian, ketentraman, dan kepastian begitu mereka mengganti nikmat Allah terebut dengan kekufuran dan penolakan beserah diri di bawah petunjuk Allah.

Mereka senantiasa bimbang dan ragu, dan menuntut bukti-bukti yang ada di luar kebiasaan kapan dan dimanapun.Setelah diberikan bukti, toh mereka tetap tidak mau beriman kepada mukjizat tersebut dan tak pernah merasa puas dengan nur maupun hidayah Allah. Padahal, ancaman dengan siksaan Allah yang amat keras dapat ditemukan bukti kebenarannya. Pertama, dalam ikhwal bani Israil pula, dan selanjutya pada diri setiap orang yang mengganti nikmat Allah dan tetap berlaku ragu. Hal ini ada disepanjang sejarah umat manusia.

Manakala suatu umat mengganti nikmat Allah dengan kekufuran, maka sudah pasti mereka akan ditimpaakan siksa yang pedih dalam kehidupan mereka dimuka bumi sebelum ditimpakan siksa yang berat di akhirat.

Tengoklah orang-orang yang ditimpa penderitaan seperti itu yang ada di antero jagat raya ini. Mereka gelisah, bimbang, saling terkam, saling usir, dan saling bunuh. Ini adalah suatu kondisi yang diciptakan oleh orang-orang yang berafdab yang kadang tenggemam ditempat minuman keras dan night club, bar-bar diskotik. Terkadang mereka juga memperlihatkan gerak kebingungannya yang memberi kesan kepada kita bahwa sebenarnya merek ingin membebaskan diri dari berbagai malapetaka yang mengungkungnya.

Itu dapat dilihat dari penampilan mereka yang berada pada lingkungan demikian ganjil, seperti sikap sombong, menantang, dan sikap-sikap lain yang lebih mirip binatang sampai dengan “dasi yang melilit “ leher mereka, lagu-lagu yang merangsang, pesta pora, lirik-lirikan maksiat, dan pergaulan eksklusif. Detik ini duduk-duduk dengan istri,dan detik berikutnya tenggelam di tempat pelacuran, berikutnya lagi memberikan dana sosial, tapi tak lama kemudian melakukan kejahatan besar,  yakni memanipulasi dan korupsi. Semua ini memaparkan sikap kebingungan pada jiwa mereka karena kosong dari iman.

Sesungguhnya keimanan yang kuat adalah nikmat Allah yang diberikan kepada hambanya. Bila seseorang mengganti kenikmatan itu, dengan kekufuran, maka Allah pasti menimpakan azabnya seperti yang dipaparkan di atas. Karena itu, mari kita berlindung kepada Allah dari sikap khas Bani Israil yang selalu ragu dan enggan masuk kedalam Islam secara total.

Sumber :
Seimbanglah Dalam Beragama - Marwan Al Qadiry
Read More

20 March 2017

Islam Mengajarkan Untuk Menjaga lisan

Islam Mengajarkan Untuk Menjaga lisan

“Kebanyakan wanita meletakkan tangannya dimulutnya ketika ia sedang menangis dan lelaki akan meletakkan tangannya di matanya ketika ia sedang menangis, seolah-olah mereka mengetahui dari mana banyak terhasilnya dosa.” (Dr. Khalid Abd. Aziz Muhammad Al Jubair)

Ya, manusia adalah tempatnya salah dan lupa. Setidaknya dengan menangis, Allah SWT sudah memberi isyarat kepada kita dari mana terhasilnya dosa yang paling banyak. Dari mata dan mulut saja sudah banyak dosa yang dihasilkan, belum lagi telinga, tangan, kaki, dan penyakit hati yang tak tampak. Astaghfirullah.

“Dan tidakkah nanti seseorang akan di seret ke neraka dengan wajah-wajah mereka (ditanah), terkecuali itu karena ulah lidah-lidah mereka.” (HR. Tirmidzi, Ibnu Majah, dan Al-Hakim)

Rasulullah saw bersabda: “Sungguh  seorang hamba mengucapkan satu kalimat yang diridhai Allah swt, ia tidak peduli ucapannya, maka Allah mengangkat karenanya beberapa derajat. Dan sungguh, seorang hamba mengucapkan satu kalimat yang dibenci Allah, ia tidak memedulikannya, maka Allah swt melemparkannya ke api neraka karenanya.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Maka dari itu lebih baik diam dari pada membicarakan sesuatu yang tidak penting. Nabi saw bersabda: “Diam adalah bentuk ibadah yang paling tinggi.” (HR. Dailami, dari Abu Hurairah)

Imam Syafi’i pernah mengatakan: “Jagalah lisanmu! Jangan pernah menyebut kekurangan seseorang karena kamu pun mempunyai kekurangan dan orang lain mempunyai lisan. Jagalah matamu! Jika terlihat olehmu aib suatu kaum, katakanlah ‘hai mataku orang lain pun mempunyai mata’ “
Lantas apa sih perkara yang harus kita hindari berkenaan dengan menjaga lisan?

1.    Berbohong
Rasulullah saw bersabda: “Seorang mukmin jatuh pada kesalahan atau kebiasaan apa pun, kecuali khianat dan kebohongan.” (HR. Ahmad, Baihaqi, dan Syuabal Iman)

Adapun bolehnya  kita berbohong, yaitu sebagai berikut:
  1. Mendamaikan dua pihak yang berselisih
  2. Berbohong dalam strategi perang
  3. Memperbaiki hubungan antara suami istri (rumah tangga)
“Seorang yang berkata (bohong) unuk mendamaikan (dua orang yang berseteru), seorang yang mengucapkan kata-kata (bohong terhadap musuhnya) dalam peperangan, dan (kebohongan) suami terhadap istrinya (saat suami memuji istrinya) dan istri (memuji) terhadap suaminya.” (HR. Ahmad)

2.    Mencela
“Hai orang-orang yang beriman, janganlah sekumpulan orang laki-laki merendahkan kumpulan yang lain, boleh jadi yang direndahkan itu lebih baik dari mereka. Dan jangan pula sekumpulan perempuan merendahkan kumpulan lainnya, boleh jadi yang direndahkan itu lebih baik. Dan janganlah suka mencela dirimu sendiri dan jangan memanggil (orang) dengan gelar yang mengandung ejekan.” (QS. Al-Hujurat:11)

Berkenaan dengan dosa mencela, Rasulullah saw pernah mengingatkan Aisyah saat mengejek fisik Shafiyyah karena kecemburuannya. Nabi saw menegur Aisyah dengan berkata: “Sungguh engkau telah mengatakan satu kalimat, yang andaikan kalimat itu dicampur ke lautan maka ia akan mengubahnya.” (HR. Abu Dawud)

3.    Adu Domba (Namimah)
Rasulullah saw bertanya kepada para sahabat, “Maukah kuberitahukan kepada kalian orang yang paling buruk? Para sahabat menjawab, “Tentu” Nabi saw bersabda, “Orang yang berbuat namimah, yang merusak hubungan orang yang saling mencintai.” (HR. Bukhari)

Perihal balasan bagi pelaku namimah, sunguh amatlah besar.

Diriwayatkan bahwa  rasulullah saw pernah melintasi kuburan lalu menjelaskan bahwa dua orang penghuni kubur itu sedang disiksa di alam kubur.

“Sesungguhnya keduanya tengah diazab. Keduanya tidak diazab karena dosa besar. Adapun salah seorang diantaranya adalah karena dia tidak membersihkan diri dari kencing, sedang yang lainnya adalah karena suka menyebarluaskan adu domba.” (HR. Bukhari dan Muslim)

4.    Ghibah
“Tahukah kalian apa itu ghibah (menggunjing)?” Para sahabat menjawab: “Allah dan Rasul-Nya yang lebih tahu.” Kemudian beliau bersabda: “Ghibah adalah engkau membicarakan tentang saudaramu sasuatu yang dia benci.” Ada yang bertanya. “Wahai Rasulullah, bagaimana kalau yang kami katakan itu betul-betul ada pada dirinya?” Beliau menjawab: “Jika yang kalian katakan itu betul, berarti kalian telah berbuat ghibah. Dan jiika apa yang kalian tidak betul, berarti kalian telah memfitnah (mengucapkan suatu kedustaan).” (HR. Muslim).

Ghibah adalah perbuatan tercela yang dosanya amat besar, karena telah melanggar kehormatan sesama muslim.

Rasulullah saw: “Sesungguhnya dosa yang paling besar adalah jika seseorang melanggar kehormatan seorang muslim tanpa alasan yang dibenarkan (syariat).” (HR. Abu Dawud)

Sumber:
Kun Anta - @NegeriAkhirat
Read More

Keutamaan Shalat Dari Sisi Kesehatan



Keutamaan Shalat Dari Sisi Kesehatan

Sebagai Muslim kita wajib untuk melaksanakan shalat minimal 5 kali dengan 17 rakaat setiap hari. Shalat sendiri mempunyai banyak keutamaan. Misalnya, dengan shalat dapat memberikan ketenangan bagi jiwa kita. Adanya pahala kebaikan yang dapat kita peroleh, dan sebaliknya, kita akan berdosa jika meninggalkannya. Untuk Artikel kali ini akan lebih membahas terkait keutamaan shalat dari sisi kesehatan. Jadi kita perlu tahu jika shalat juga dapat memberikan dampak positif bagi tubuh kita, sehingga membantu dalam menjaga kesehatan.

Manfaat Shalat Bagi Kesehatan


1.    Membuat awet muda
Semua gerakan shalat yang kita lakukan pada dasarnya bertujan meremajakan anggota badan. Bila badan kita lentur, kerusakan sel dan kulit sedikit terjadi. Misalnya, gerakan salam. Gerakan ini memiliki pengaruh besar pada kekencangan kulit saat kita menengok ke kanan dan ke kiri. Selain itu, gerakan ini juga bisa menghindarkan kita dari serangan migrain dan sakit kepala lainnya.

2.    Memudahkan persalinan
Saat posisi sujud, saat pinggul dan pingang terangkat melampaui kepala dan dada, otot-otot perut (rectus abdominis dan obliquus abdominis externus) berkontraksi penuh. Berkontraksi penuh. Posisi sujud bisa melatih organ disekitar perut  untuk mengejan lebih dalam dan lama. Hal ini sangat bermanfaat bagi wanita karena saat persalinan diperlukan pernapasan yang baik dan kemampuan mengejan yang cukup. Jika otot perut sudah berkembang menjadi lebih besar dan kuat, ia akan lebih elastis secara alami

3.    Memperbaiki kesuburan
Saat posisi kita dalam sikap duduk (duduk iftirosy (tahiyyat awal) dan duduk tawarruk {tahiyyat akhir}), otot-otot daerah perineum ikut berkontraksi. Inilah daerah terlindung bagi wanita karena terdapat tiga lubang, lubang persenggamaan, dubur, dan saluran kemih.
Ketika duduk tawarruk, tumit kaki kiri harus menekan daerah perineum. Sedangkan, punggung kaki harus menekan daerah perineum. Sedangkan, punggung kaki harus diposisikan di atas telapak kaki kiri dan tumit kaki kanan harus menekan pangkal paha kanan. Di kondisi seperti ini, tumit kaki kiri akan memijat dan menekan daerah perineum. Hal ini akan memperbaiki organ reproduksi di daerah perineum.

4.    Memacu kecerdasan

Ketika sujud, posisi jantung berada di atas kepala yang memungkinkan darah mengalir secara maksimal ke otak. Denga itu otak mendapatkan pasokan darah kaya oksigen yang bisa memacu kerja sel-selnya. Ini artinya, sujud secara tumakninah dan kontinyu bisa memacu kecerdasan.

Sumber: buku Kun Anta karya @NegeriAkhirat
Read More

18 March 2017

Keutamaan Malu Dan Celakanya Orang Yang Sombong

Keutamaan Malu Dan Celakanya Orang Yang Sombong

Malu yang dimaksud disini bukanlah ketidakpercayaan pada diri sendiri. Misalnya seperti malu ketika akan tampil di depan orang banyak. Malu ketika ingin bertanya di dalam kelas. Malu yang dimaksud disini merupakan sikap yang mulia, yang perlu dimiliki oleh setiap muslim.

Dan juga mengenai sikap sombong yang mungkin kita juga masih salah dalam memaknainya selama ini. Mungkin kita masih berfikiran bahwa sombong merupakan perbuatan untuk terlihat baik di mata orang lain. Sombong yang dimasksud disini adalah perbuatan yang sangat tercela, bahkan mengarah ke pada kekufuran.

Berikut terdapat hadits – hadits berkaitan dengan kemuliaan rasa malu dan keburukan dari sikap sombong


Dari Ibnu Umar ra, ia berkata: “Raslulllah saw melewati seorang Anshar yang sedang memberi nasihat kepada saudaranya karena pemalu, lalu beliau saw bersabda: “Biarkan ia pemalu! Sesungguhnya malu itu sebgaian dari iman.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Dari Imran bin Hushain ra, ia berkata: “Rasulullah saw bersabda: “Perasaan malu selalu mendatangkan kebaikan.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Dari riwayat Muslim dikatakan: “Setiap persaan malu mengandung kebaikan.”

Dari Abu Hurairah ra, ia berkata: “Rasulullah saw bersabda: “Cabang iman ada enam puluh lebih, atau tujuh puluh lebih, yang paling utama adalah ucapan: LAA ILAAHA ILLALLAAH (Tidak ada Tuhan selain Allah), dan yang paling rendah adalah menyingkirkan gangguan dari jalan. Sedangkan malu adalah bagian dari iman.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Dari Abu Sa’id Al-Khudriy ra, ia berkata: Rasulullah saw sangat pamalu, melebihi seorang gadis yang dipingit. Ketika melihat sesuatu yang tidak beliau sukai, kami dapat mengetahui melalui raut wajahnya.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Para ulama  berpendapat: “Hakikat malu adalah budi pekerti yang mengajak agar meninggalkan kejelekkan dan mencegah dari mengurangi hak orang lain.”

Dalam riwayat Abul Qasim Al Junaid ra, ia berkata: “Malu adalah memandang kebaikan dan melihat kekurangan diri sendiri. Dari kedua pandangan itu, lahirlah perasaan yang dinamakan malu.”

Allah ta’ala berfirman: “Dan janganlah kamu berjalan di muka bumi ini dengan sombong.” (Al-Israa”: 37)
Allah Ta’ala berfirman: “Dan janganlah kamu memalingkan mukamu dari manusia (karena sombong), dan janganlah kamu berjalan di muka bumi dengan angkuh. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang sombonng lagi membanggakan diri.” (Luqman:18)

Dari Abdullah bin Mas’ud ra, dari Nabi saw, beliau bersabda: “Tidak akan masuk surga orang yang di dalam hatinya terdapat sifat sombong, walaupun hanya sebesar atom. “Ada seorang laki-laki berkata: “Sesungguhnya seseorang itu suka berpakaian yang bagus-bagus dan sandal yang bagus pula.” Beliau bersabda: “Sesungguhnya Allah itu indah, suka pada keindahan. Sombong itu menolak kebenaran dan merendahkan sesama manusia.” (HR.Muslim)

Dari Salamah bin Al-Akwa’ ra, ia berkata: “Ada seorang laki-laki makan dihadapan Rasulullah saw dengan menggunakan tangan kirinya, kemudian beliau bersabda: “Makanlah dengan menggunakan tangan kanannmu!” Laki-laki itu menjawab: “Saya tidak bisa.” Beliau bersabda lagi: “Kamu tidak bisa, karena kesombonganmu.” Salamah berkata: “Kemudian laki-laki itu, tidak bisa mengangkat tangannya kemulut.” (HR. Muslim)

Dari Haritsah bin Wahb ra, ia berkata: “Saya mendengar Rasulullah saw bersabda: “Maukah kalian aku beritahu tentang penghuni neraka? Yaitu setiap orang yang berlaku kejam, rakus, dan sombong.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Allah Ta’ala berfirman: “Sesungguhnya Qarun adalah termasuk kaum Musa, maka ia berlaku aniaya terhadap mereka, dan Kami telah menganugerahkan kepadanya perbendaharaan harta yang kunci-kuncinya sungguh berat dipikul oleh sejumlah orang yang kuat. (Ingatlah)! Ketika kaumnya berkata kepadanya: “Janganlah kamu terlalu banggga; sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang terlalu membanggakan diri.” Dan carilah pada apa yang telah dianugerah Allah kepadamu (kebahagiaan) negeri akhirat, dan janganlah kamu melupakan bagianmu dari (kenikmatan) duniawi dan berbuat baiklah (kepada orang lain) sebagaimana Allah Ta’ala berbuat baik kepadamu, dan janganlah kamu berbuat kerusakan di (muka) bumi. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang- orang yang berbuat kerusakan.

Qarun berkata: “Sesungguhnya aku hanya diberi harta, karena aku mempunyai ilmu.” Dan apakah ia tidak mengetahui, sesungguhnya Allah telah membinasakan umat-umat sebelumnya, yang lebih kuat daripadanya, dan lebih banyak mengumpulkan harta? Dan tidaklah perlu ditanya kepada orang-orang yang berdosa itu, tentang dosa-dosa mereka. Maka keluarlah Qarun kepada kaumnya dalam kemegahannya.

Berkatalah orang-orang yang menghendaki kehidupan dunia: Mudah-mudahan kita mempunyai seperti apa yang telah diberikan kepada Qarun; sesungguhnya ia benar- benar mempunyai keberuntungan yang besar.”

Berkatalah orang-orang yang telah dianugerahi ilmu: “Kecelakaan besar yang akan menimpamu. Padahal Allah itu adalah lebih baik bagi orang-orang yang beriman dan beramal saleh, dan tidak diperoleh pahala itu, kecuali orang-orang yang sabar.” Maka Kami benamkan Qarun beserta rumahnya ke dalam bumi. Maka tidak ada satu golonganpun yang menolongnya dari azab Allah. Dan tiadalah ia termasuk orang-orang (yang dapat) membela (dirinya).” (Al-Qashash: 76-81)

Dari hadits – hadits tersebut dapat kita ambil sebagai pelajaran bahwa malu adalah perbuatan untuk meninggalkan kejelekkan. Mari kita tumbuhkan rasa malu pada diri kita, menjadi orang yang segan ketika akan melakukan kemaksiatan.

Dan dengan kita mengetahui apa itu sombong, semoga kita sebagai muslim harus menghindari sikap tersebut. Sikap menolak kebenaran merupakan tanda bahwa hati seseorang itu sedang sakit atau bahkan yang terburuk adalah hati itu sudah mati. Sehingga sombong akan mengarahkan kita kepada kekufuran. Semoga kita dijauhkan oleh Allah dari sikap sombong.
Semoga artikel ini bermanfaat. Tetap istiqomah dalam belajar Islam.

Sumber:
Riyadhus Shalihin - Imam Nawawi
Read More

15 March 2017

Memberi Lebih Baik Daripada Menerima

Memberi Lebih Baik Daripada Menerima

Mungkin kita pernah mendengar kalimat "Tangan di atas lebih baik dari tangan di atas". Kalimat tersebut bisa kita maknai bahwa memberi sesuatu kepada sesorang itu lebih baik daripada menerima sesuatu dari sesorang. Dan ternyata pada zaman Nabi Muhammad banyak terdapat kisah - kisah teladan yang memberikan pelajaran terkait keutamaan memberi. Bagaimana orang - orang terdahulu lebih mementingkan saudaranya daripada dirinya sendiri. Bagaimana mereka dengan senang hati berkorban demi saudaranya.

Allah Ta’ala berfirman: “Dan mereka mengutamakan (orang-orang Muhajirin) atas diri mereka sendiri, sekalipun mereka dalam kesusahan.”  (Al-Hasyr:9)

Allah Ta’ala berfirman: “Mereka memberikan makanan yang disukainya kepada orang miskin, anak yatim dan orang yang ditawan....” (Ad-Dahr:8)

Dari Abu Hurairah ra., ia berkata: “Ada seseorang datang kepada Nabi saw dan berkata: “Sesungguhnya saya sangat lapar.” Maka beliau membawanya ke salah seorang isterinya, dan isterinya berkata: “Demi Zat yang mengutus engkau dengan kebenaran, saya tidak mempunyai apapun kecuali air.” Kemudian membawanya ke isteri yang lain, dan isteri yang lain menjawab seperti yang dikatakan isteri pertama, sehingga semua isterinya menjawab seperti yang dikatakan oleh isteri pertama, yakni: “Demi Zat yang mengutus engkau dengan kebenaran, saya tidak mempunyai apapun kecuali air.” Maka beliau bersabda kepada para sahabatnya: “Siapakah yang sanggup menjamu tamuku pada malam ini? “Salah seorang sahabat Anshar berkata: “Saya wahai Rasulullah.” Kemudian orang itu pergi bersama sahabat tadi. Sesampainya di rumah, ia berkata kepada isterinya: “Muliakanlah tamu Rasulullah saw!”

Dalam riwayat lain dikatakan: “Sahabat itu bertanya kepada isterinya: “Apakah kamu mempunyai makanan?” Isterinya menjawab: “Tidak punya, kecuali makanan untuk anak-anak.” Sahabat itu berkata: “Hiburlah mereka dengan sesuatu. Apabila mereka ingin makan, tidurkanlah mereka. Apabila tamu kita masuk, padamkanlah lampu dan perlihatkanlah seolah-olah kita ikut makan.” Kemudian mereka duduk bersama, dan tamu itu makan, tetapi sahabat dan isterinya dalam keadaan lapar. Ketika pagi merea bertemu dengan Nabi saw dan beliau bersabda: “Sungguh Allah kagum pada perbuatan kaliandalam menjamu tamu semalam.” (HR. Bukhari Muslim)

Dari Abu Hurairah ra, ia berkata: “Rasulullah saw bersabda : “Makanan dua orang cukup untuk tiga orang, dan makanan tiga orang cukup untuk empat orang.” (HR. Bukhari dan Muslim)
Dari Abu Sa’id Al-Khudriy ra, ia berkata: “Waktu kami bepergian bersama Nabi saw, tiba-tiba datang seseorang yang berkendaraan, sambil menoleh ke kanan dan ke kiri seolah-olah mengharapkan bantuan makanan, maka Rasulullah saw bersabda: “Siapa saja yang mempunyai kelebihan kendaraan hendaklah ia memberikan kepada orang yang tidak mempunyai kendaraan, dan siapa saja yang mempunyai kelebihan bekal, hendaknya ia memberikan kepada orang yang tidak mempunyai bekal.” Kemudian beliau menyebut berbagai macam harta. Sehingga kami merasa, seolah-olah tidak seorang pun dianatara kami mempunyai hak atas kelebihan harta.” (HR. Muslim)

Dari Sahl bin Sa’d ra, ia berkata: “Ada seorang perempuan datang kepada Nabi saw memberikan selimut tenunan, seraya berkata: “Kain ini saya tenun sendiri, dengan harapan engkau senang memakainya.” Maka Nabi saw menerima dan memakainya, sebab beliau membutuhkannya. Kemudian beliau keluardan memakai selimut ini sebagai sarung. Tiba-tiba Fulan berkata: “Alangkah bagusnya selimut ini, saya ingin memakainya.” Beliau bersabda: “Setelah Nabi saw duduk ditempatnya, baliau pulang dan melipatnya, kemudian dikirim kepada orang yang menginginkannya. Orang-orang berkata kepada orang itu: “Tidak baik bagimu, sebab kain itu sangat dibutuhkan Nabi saw kemudian kamu minta. Sebenarnya kamu juga tahu, beliau tidak pernah menolak orang yang meminta.” Orang itu menjawab: “Demi Allah saya memintanya bukan untuk saya pakai, tetapi untuk saya jadikan kain kafan.” Sahl berkata: “Selimut itu memang benar menjadi kain kafannya. (HR. Bukhari)

Dari Abbu Musa Al-Asy’ariy, ia berkata: “Rasulullah saw bersabda: “Sesungguhnya orang-orang Asy’ariy, apabila persediaan mereka dalam peperangan hampir habis atau makanan bagi keluarga mereka di Madinah tinggal sedikit, maka mereka mengumpulkan sisa-sisa yang ada dalam satu kain kremudian mereka membagi-bagi nya sama rata dalam sau bejana. Mereka itu termasuk golonganku dan aku termasuk golongan mereka.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Sumber:
Riyadhus Shalihin - Imam Nawawi

Read More