09 March 2017

Karena Hukum Alam Tidak Pernah Berubah

Karena Hukum Alam Tidak Pernah Berubah

Karena Hukum Alam Tidak Pernah Berubah - Tahukah Anda, meskipun terjadi pencemaran luar biasa yang menimpa lingkungan kita, namun alam tetap pada tabiatnya, tidak pernah berubah, terutama yang berkaitan dengan undang-undang yang berlaku pada alam?

Pernahkah Anda mencoba menebar benih diatas tanah pertanian, namun ia tidak tumbuh?
Pernahkan Anda berlayar dengan perahu dengan mengikuti arah angin, namun perahu itu tidak bisa berjalan?

Banyak sekali kejadian disekeliling kita, namun kita hanya membiarkannya berlalu tanpa mengerti bahwa ada pesan yang ingin disampaikan oleh alam kepada kita, sehingga kita bisa mengambil sikap.

Dikisahkan ada seorang bijak yang melakukan perjalanan dan meninggalkan kota bersama anaknya, sekedar ingin tahu cuaca dan suasana kehidupan diluar kota yang dibalut dengan udara bersih, jauh dari keramaian kota.

Dua orang tersebut menelusuri sebuah lembah yang sangat dalam, yang dikelilingi oleh gunung-gunung yang menjulang tinggi.

Di tengah perjalanan, si kecil kecapekan untuk berjalan dan terjatuhlah ia dipelukan sang ayah. Anak kecil itu berteriak keras merasa kesakitan, “Aaaahh.”

Tiba-tiba ditempat lain (yang cukup jauh) dari lembah tersebut terdengar suara jeritan yang mirip dengan jeritan si kecil, “Aaaaahh.”

Si kecil akhirnya melupakan rasa sakitnya dan dengan cepat menanyakan dari mana sumber suara itu dan berteriak, “Siapa kamuuuu...?”

Kemudian disambut dengan jawaban yang sama, “Siapa kamuuuu...?”

Si kecil tadi kagetmdengan jawaban yang sama. Ia sangat terkejut dengan jawaban yang bernada tantangan itu. Ia membalasnya dengan mengatakan, “Justru saya yang bertanya, kamu ini siapa?”

Sekali lagi, jawaban yang ia dengar tidak lain sama kasarnya dengan pertanyaan yang ia lontarkan, “Justru saya yang bertanya, kamu ini siapa?”

Maka si kecil akhiranya tuidak bisa mengontrol emosinya setelah sekian lama berhadapan. Ia pun berteriak keras dengan penuh kemarahan, “Kamu pengecut!”

Dengan volume yang sama kerasnya, suara itu membalasnya, “Kamu pengecut!”

Mulai detik itu, ia menyadari bahwa akan ada pelajaran baru yang harus ia petiik dari fase kehidupannya. Ia harus belajar dari ayahnya tercinta yang bijak, yang sejak awal perjalanan tidak ingin ikut campur dengan apa yang dilakukan oleh anaknya.

Sang anak mulai mencoba mengendalikan keamarahnya dan menanyakan kepada ayahnya, apa arti semua kejadian ini, sehingga ia bisa memetik pelajaran darinya.

Seperti biasanya, sang ayah yang bijak itu senantiasa menyikapi setiap kejadian dengan penuh hikmah. Ia meminta si kecil agar memperhatikan jawaban yang akan  ia dengar ketika sang ayah meneriakkan sesuatu.

Ia berteriak, “Saya menghormatimu.”

Maka jawaban yang didengar pun sama persis dengan kata-kata yang diteriakkannya dan dengan nada yang sama, “Saya menghormatimu.”

Si kecil sangat heran dengan jawaban yang berebeda dengan saat ia berteriak. Sang ayah kemudia meneruskan eksperimen ini . ia meneriakkan, “Sungguh, anda sangat menarik.”

Jawaban yang ia dengar juga sama persis dengan kata-kata yang diteriakkan sang ayah, “Sungguh, anda sangat menarik.”

Si kecil terheran-heeran dengan semua yang ia dengar. Hanya saja ia masih belum bisa memahami apa rahasia dari perubahan jawaban yang ia dengar. Ia terdiam seribu bahasa, merenungi dengan serius makna di balik semua peristiwa ini, sambil menunggu penjelasan dari sang ayah.

Sang ayah yang bijak kemudia mengomentari semua kejadian itu dengan kata-kata hikmahnya, “Hai anakku tercinta, kejadian alamiah ini dinamakan ‘gema’.”

Hal seperti ini tidak lain menjadi bukti nyata bahwa balasan itu sesuaui dengan perbuatan yang dilakukan. Barangsiapa berbicara, maka ia akan mendengar efek ucapannya. Barangsiapa menanam benih, maka ia pun akan memetik hasil dari benih yang ditanam. Barangsiapa berlayar sesuai arah angin, maka ia akan ampai pada tempat yang ia tuju. Barangsiapa bekerja keras, maka ia akan mendapat balasan dari keringat dan kelelahannya.

Sumber:
Dahsyatnya Optimis - Mustofa Kamal

Read More

08 March 2017

Pernikahan Dalam Islam

Pernikahan Dalam Islam

Pernikahan Dalam Islam – Sepertinya masih banyak dari kita yang memahami pernikahan hanyalah sekedar berkumpulnya antara seorang laki – laki dengan seorang perempuan kemudian menghasilkan keturunan. Namun sebenarnya ada tujuan lain yang lebih mulia dari pada itu, yaitu untuk meraih ketakwaan. Sehingga pernikahan ini tidak hanya berorientasi pada dunia saja melainka juga pada akhir sehingga pernikahan itu bernilai pahala. Berikut ini secara ringkas kami jelaskan beberapa hal terkait pernikahan

Pra Nikah 

Di era global,di kalangan sebagian selebriti proses sebuah paerkawinan sering dipahami hanya sebuah perjanjian “bongkar pasang”. Dapat digambarkan sebagai transaksi jual beli sepeda motor di pasaran. Dalam Islam, perkawinan merupakan  perjanjian suci, bahkan sebelum melakukan perkawinan diajarkan pula beberapa prasyarat agar seseorang mengetahui dengan benar hakekat perkawinan.

Hakekat Pernikahan

Menurut bahasa, kawin identik dengan nikah yang berasal dari bahasa Arab, yakni berarti “menghimpun, berkumpul, dan menindih”. Sedangkan menurut  istilah, berarti akad yang menghalalkan pergaulan antara laki-laki dan perempuan yang bukan mahrom yang menimbulkan hak dan kewajiban di antara keduanya. Pengertian perkawinan di atas hakekatnya tidak hanya melihat dari segi control lahiriyah saja, namun sekaligus ikatan pertautan kebatinan antara suami istri dalam membina keluarga yang kekal sesuai dengan kehendak Allah.

Hukum Nikah

Dalam hokum Islam pernikahan dasarnya mubah (boleh) selanjutnya pernikahan dihukumi wajib apabila,seseorang telah cukup sandang, pangan dan dikhawatirkan terjerumus kepada perzinaan. Perkawinan dihukumi makruh apabila, seseorang belum mampu, sedangkan dihukumi haram apabila diniatkan untuk menyakiti orang yang dikawininya.

Tujuan Nikah

Pernikahan dalam Islam bertujuan menciptakan keluarga yang tentram, damai sejahtera lahir dan batin, seperti terdapat dalam firman Allah :

"Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah Dia menciptakan untukmu istri-istri dari jenismu sendiri, supaya kamu cenderung dan merasa tenteram kepadanya, dan dijadikan-Nya di antaramu rasa kasih dan sayang. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi kaum yang berpikir." (Q.S. Ar - Rum : 21)

Di samping itu perkawinan juga tidak sekedar pengabsahan dan kehalalan laki-laki dan perempuan, tetapi juga diharapkan mendapatkan keturunan, sebagaimana dalam firman Allah:

"Dan orang orang yang berkata: "Ya Tuhan kami, anugrahkanlah kepada kami isteri-isteri kami dan keturunan kami sebagai penyenang hati (kami), dan jadikanlah kami imam bagi orang-orang yang bertakwa."(Q.S. Al-Furqan:74)

Itulah di antara tujuan pernikahan yang pokok, di samping masih banyak hikmah-hikmah perkawinan dalam Islam. Semoga dapat menjadi manfaat bagi pembaca.

Sumber :
Ibadah Muamalah - Drs. H. Ramelan

Read More

Teladan Dalam Waktu

Teladan Dalam Waktu

Teladan Dalam Waktu - Umar bin Khattab ra berkata, “Sesungguhnya aku melihat seorang lelaki yang tidak melakukan aktivitas duniawi dan juga tidak beramal untuk akhirat, maka orang seperti ini akan jatuh dari pandanganku (tidak berharga bagiku).”

Allah swt berfirman, “Dia (pula) yang menjadikan malam dan siang silih berganti bagi orang yang ingin mengambil pelajaran atau orang yang ingin bersyukur.” (Al-Furqan:62)

Malam berganti siang dan siang berganti malam. Ini merupakan kesempatan bagi orang yang hendak memanfaatkannya untuk berfikir, taat, ibadah, atau ilmu yang bermanfaat.

Salah seorang sahabat masuk kedalam masjid, lalu dia menjumpai seorang lelaki yang sedang bersedih. Dia bertanya, “ Apa yang terjadi dengan Anda?” Rupanya orang itu  ketinggalan shalat berjamaah.

Coba perhatikan bagaimana sedih dan gelisahnya mereka, ketika kehilangan amal-amal shalih. Bandingkan dengan keadaan dan kelailaian kita yang sering sekali shalat demi shalat terlewat dari kehidupan kita. Kita juga menderita kerugian pahala demi pahala. Sungguh, hanya Allah sebagai tempat meminta perlindungan.

Allah swt menjelaskan, manusia bukan diciptakan untuk hal yang sia-sia belaka.
“Maka apakah kamu mengira, bahwa sesungguhnya Kami menciptakan kamu secara main-main (saja), dan bahwa kamu tidak akan dikembalikan kepada Kami? Maka Maha Tinggi Allah, Raja Yang Sebenarnya; tidak ada illah selain Dia, Rabb (Yang mempunyai) ‘Arsy yang mulia.” (Al-Mukminun:115-116)

Ibnul Qayyim mengatakan, “Kesia-siaan terjadi karena sepuluh sebab. Sebab yang paling dahsyat adalah kesia-siaan hati dan kesia-siaan waktu, karena tidak akan ada gantinya.”

Apabila hati sudah teria-siakan, maka kita telah merugikan tempat kembali. Apabila waktu kita tersia-siakan, maka usia kita kan sia-sia belaka.

Seorang penyair mengatakan:

“Apakah anak kecil akan menjadi pemuda dan orang tua akan binasa, setiap kali siang datang dan malam tiba.

Apabila malam sudah mengakhiri harinya, setelah itu akan muncul hari muda yang lebih menjanjikan.

Kita hidup di waktu pagi dan siang hari untuk memenuhi kebutuhan- kebutuhan kita, sementara kebutuhan orang yang hidup tidak akan pernah berakhir.

Kebutuhan-kebutuhan akan binasa, ketika tuanya meninggal dunia, kebutuhannya ada yang tersisa, sementara orang itu tidak akan tersisa.”

Hasan Basri mengatakan, “setiap pagi hari terbit, seorang penyeru berseru, “Wahai anak cucu Adam, peliharalah dan manfaatkanlah hari ini. Karena selamanya dia tidak akan pernah kembali lagi sampai hari kiamat kelak.”

Suatu ketika dikatakan kepada Kurz bin Wabarah, “Kemarilah, duduk-duduk bersama kami.” Dia berkata, “Penjarakan matahari! Karena matahari tidak akan pernah kembali lagi untuk hari yang sama.”

Ibnu Aqil rahimullah tidak pernah menyia-nyiakan waktunya barang sedikit pun. Apabila dia hendak tidur, dia akan berpikir apa yang harus dia tulis besok hari. Apabila dia telentang, dia akan bertasbih dan beristighfar. Kehidupannya selalu diwarnai ilmu pengetahuan dan ibadah.

Ibnu Aqil mengarang kitab Al-Funun yang terdiri dari tujuh ratus jilid hanya dalam waktu-waktu istirahat-istirahatnya saja! Semoga Allah menganugerahkan rahmat byang melimpah kepadanya atas amalnya yang sangat agung ini.

Wahai generasi muda peliharalah waktumu! Demi Allah, apabila kita menyia-nyiakannya, maka selamanya dia tidak akan kembali kepada kita. Manfaatkanlah dia dan lakukanlah amal kebaikan padanya, baik berupa ibadah, belajar, atau memberikan manfaat kepada orang lain.

Sumber:
Selagi Masih Muda - Dr.A’idh al-Qarni M.A.

Read More

07 March 2017

Apa Saja Rukun Wudhu?

Apa Saja Rukun Wudhu?

Apa Saja Rukun Wudhu? - Rukun merupakan hal - hal apa saja yang harus dikerjakan dalam suatu ibadah. Jika ada salah satu rukun yang tidak dikerjakan, maka ibadah tersebut tidak sah. Berikut ini penjelasan mengenai Rukun Wudhu.

Rukun - Rukun Wudhu :

  • Niat. Niat berarti kehendak untuk mengerjakan sesuatu demi mengharapkan ridha Allah dan melaksanakan perintah-Nya. Niat adalah amal hati murni dan lisan sama sekali tak punya peran di dalamnya. Oleh karena itu, melafalkannya tidak disyariatkan. Dalil persyariatan niat adalah hadits Umar bahwa Rasulullah SAW bersabda :

"Seluruh amal bergantung pada niatnya, dan seseorang hanya akan memperoleh sesuatu berdasarkan pada apa yang diniatkannya ...."(HR. Jamaah)

  • Membasuh wajah sekali. Kata "membasuh" berarti "mengalirkan air". Batas wajah adalah panjangnya dimulai dimulai dari bagian dahi yang rata hingga ke bagian bawah jenggot. Sedangkan lebarnya adalah mulai dari cuping telinga kanan hingga cuping telinga kiri.



  • Membasuh kedua tangab hingga kedua siku. Kedua siku termasuk bagian yang wajib dibasuh



  • Mengusap kepala. Kata mengusap berarti membasahi, dan ia tak terwujud kecuali dengan menggerakkan anggota tubuh pengusap pada anggota tubuh yang diusap. Dengan demikian, hanya meletakkan tangan atau jari di kepala atau bagian tubuh lainnya tidak bisa disebut "mengusap".



  • Membasuh kedua kaki beserta mata kaki, Membasuh disini maksudnya adalah menggerakkan tangan pada kaki. Jadi tidak hanya sekedar membasahi kaki, karena masih banyak orang yang melakukannya. 


           Rukun - rukun wudhu yang disebutkan diatas adalah rukun - rukun yang diterangkan oleh                    firman Allah :

"Hai orang - orang yang beriman, apabila kamu hendak mengerjakan shalat maka basuhlah mukamu dan tanganmu sampai dengan siku, dan sapulah kepalamu dan (basuh) kakimu sampai dengan kedua mata kaki." (Al - Maidah: 6)


  • Urut. Karena, dalam ayat di atas Allah telah menyebutkan rukun - rukun wudhu secara berurutan.


Beberapa hal diatas merupakan rukun - rukun wudhu yang wajib kita kerjakan saat berwudhu. Tidak boleh ada salah satu rukun yang terlewatkan. Dan adapun gerakan - gerakan wudhu yang seperti membasuh telapak tangan, berkumur, dan membersihkan hidung merupakan sunnah. Ketika kita mengerjakannya maka kita akan mendapatkan keutamaan. Dan jika tidak dikerjakan maka wudhu kita tetap sah.

Demikian yang dapat kami sampaikan berkaitan dengan rukun wudhu. Semoga dapat memberikan pemahaman kepada saudara dan dapat bermanfaat.

Sumber :
Ringkasan Fiqih Sunnah - Sulaiman Al - Faifi
Read More

Hawa Nafsu Melawan Ibadah

Hawa Nafsu Melawan Ibadah

Hawa Nafsu Melawan Ibadah - Siapakah yang mengeluarkan mereka untuk berjihad? Bukankah dengan Kitabullah (Al-Qur’an) dan peran Rasulullah saw sang Penunjuk Jalan?

Sesungguhnya orang yang menjadikan hidupnya hannya untuk memenuhi nafsu syahwatnya bukanlah seorang hamba Allah yang hakiki, tetapi dia hanyalah seorang hamba nafsu syahwatnya.

 Allah swt telah berfirman:
“Orang-orang yang berjihad untuk (mencari keridaan) Kami, benar-benar akan Kami tunjukkan kepada mereka jalan-jalan Kami. Sesungguhnya Allah benar-benar beserta orang-orang yang berbuat baik.” (Al-Ankabut:69)

Maksudnya, orang-orang yang berusaha untuk mengetahui dan memahami, niscaya Allah akan memahamkannnya.

Orang-orang yang menginginkan pemahamannya terhadap agama, niscaya Allah akan memberikan kepahaman kepada mereka. Orang-orang yang menginginkan berjumpa dengan Allah pada hari kiamat, niscaya Allah akan menjadikan mereka sebagai hamba pilihan Nya. Hal ini sesuai firman Allah swt di dalam hadist Qudsi:

“Barang siapa yang memusuhi wali-Ku, maka dia telah berani untuk mengumumkan perang dengan-Ku. Tidaklah seorang hamba-Ku, bertaqarrub (mendekatkan diri) kepada Ku dengan amal ibadah yang lebih Akucintai selain daripada yang Aku wajibkan kepadanya. Selagi hamba-Ku itu mendekatkan dirinya kepada-Ku dengan ibadah-ibadah sunnah, sehingga Aku mencintainya. Maka jika Aku telah mencintainya, niscaya Aku akan menjadi pendengaran yang dia mendengar dengannya, menjadi penglihatan yang dia melihat dengannya, menjadi tangan yang dia memukul dengannya, dan menjadi kaki yang dia berjalan dengannya. Kalau ia meminta kepada-Ku, Aku akan memberinya. Kalau ia meminta perlindungan kepada-Ku, Aku akan melindunginya.” (HR. Bukhari)

Ketika Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah menjelaskan hadist ini, beliau berkata, “Hadist ini membagi umat manusia menjadi dua bagian, yaitu: Sabiqun bil Khairat, orang yang lebih dahulu berbuat kebaikan (orang yang amal kebaikannya sangat banyak dan amal kejelekannya amat sedikit) dan Muqtashid, orang yang pertengahan (orang yang seimbang anatara amal kebaikan dengan amal kejelekannya). Sementara Zhalimu li Nafsih, orang yang berbuat aniaya kepada dirinya sendiri, dia telah melalaikan dan tidak peduli dengan dirinya.”

Allah swt berfirmnan:
“Kemudian Kitab itu Kami wariskan kepada orang-orang yang Kami pilih di antara hamba-hamba Kami. Lalu di antara mereka ada yang menganiaya diri mereka sendiri dan di antara mereka ada yang pertengahan dan di antara mereka ada (pula) yang lebih dahulu berbuat kebaikan dengan izin Allah. Yang demikian itu adalah karunia yang amat besar.” (Fathir:32)

Orang yang berbuat aniaya kepada dirinya sendiri akan tetap menjadi seorang muslim dalam komunitas kaum muslimin. Meskipun dia melakukaj dosa-dosa besar dan berbuat kemaksiatan. Hal itu tidak akan mengeluarkannya dari agama Islam, kecuali pemahaman kaum Khawarij.

Orang yang pertengahan adalah orang yang hanya melakukan ibadah-ibadah wajib dan menjauhi dosa-dosa besar. Akn tetapi dia meninggalkan ibadah-ibadah sunnah serta melakukan perkara-perkara yang makruh.

Sedangkan orang yang lebih dahulu melakukan kebaikan—kita memohon kepada Allah , semoga dengan keutamaan-Nya, kita termasuk dalam golongan ini—adalah orang yang melakukan ibadah-ibadah wajib, sunnah dan ibadah yang dianjurkan serta meninggalkan dosa-dosa besar. Menjauhi perkara-perkara yang terlarangdann yang makruh. Allah berfirman:

“Demikianlah karunia Allah, diberikan-Nya kepada siapa yang dikehendaki-Nya; dan Allah mempunyai karunia yang besar.” (Al-Jumu’ah:4)

Sumber:
Buku Selagi Masih Muda - Dr. A’idh Al- Qarni, M.A.

Read More

Seimbang Antara Dunia dan Akhirat

Keseimbangan Antara Dunia dan Akhirat

Islam dengan manhajnya yang tawazun(seimbang) dan adil dalam segala hal, tidak suka kepada orang yang menghabiskan seluruh waktunya untuk ibadah di dalam masjid, karena kehidupan ini mempunyai tuntutan-tuntutan di mana manusia mesti pandai mengatur waktunya. Islam menghendaki supaya kita berlaku sederhana dalam melaksanakan ketaatan, sebab Allah sendiri telah menyatakan dalam Q.S. Thaha:2 dan Al-Baqarah:185 yang isinya bahwa Allah tidak menjadikan Islam sebagai sesuatu yang sukar bagi umatnya. Oleh karena itu, Rasulullah melarang menambah-nambah atau berlebihan dalam melakukan ketaatan, sebab hal itu, berarti membebani diri di luar kemampuannya. Akibatnya, ia bisa menjadi jenuh dan akhirnya meninggalkan sama sekali ibadah itu.

Diriwayatkan dari Aisyah r.a Nabi SAW pernah masuk ke rumahnya (Aisyah) dan didekatnya duduk seoran perempuan ; beliaupun bertanya, “Siapakah ini?” Aisyah menjawab, “Si Fulanah ini menyebut-nyebut shalatnya.” Nabipun bersabda “Kamu tidak dituntut mengerjakan sesuatu kecuali apa yang kamu sanggupi. Demi Allah, sesungguhnya Dia tidak bosan sehingga kamu bosan.

Dalam hadist lain dikatakan

“Agama (Ibadah) yang paling disenangi oleh Allah adalah yang dikerjakan seseorang secara berkesinambungan walaupun sedikit. “ Mutafaqqun ‘alaihi).

Karena itu, rasulullah SAW selalu meluruskan pemahaman sebagian sahabatnya mengenai ibadah. Di antara mereka ada yang menganggap ibadahnya masih kurang dan perlu di tambah. Maka beliaupun bersabda

“Demi Allah, akulah yang paling takut kepada Allah dan paling bertaqwa kepadaNya dari pada kalian. Namun aku berpuasa tapi akupun berbuka, aku shalat tapi akupun tidur, dan aku juga menikah. Maka barang siapa yang benci kepada sunnahku, maka dia bukanlah umatku.” (Mutatafaqun ‘alaihi). 

Salman Al-Fairisy pernah bermalam di rumah abu Darda, sedang istrinya tampak berpakaian lusuh dikarenakan suaminya tidak memperdulikannya akibat terlalu sibuk beribadah. Maka Salman berkata kepadanya, “ Sesungguhnya Tuhanmu mempuanyai hak atasmu, dan engkau mempunyai hak atas drimu, dan begitu juga keluargamu mempunyai hak atasmu, maka berikanlah haknya kepada setiap yang berhak.” Kemudian Salman mendatangi Rasulullah dan menceritakan hal itu kepadanya. Maka beliau bersabda “Engkau benar Salman” (HR.Bukhari)

Itulah Manhaj Islam yang tawazun. Menyeimbangkan setiap tuntutan dari eksistensi manusia yang menjamin kebahagiannya, sehingga ia dapat menjalankan perannya dengan cara yang sehat. Hal Inilah yang membedakan Islam dari sistem kependetaan yang menghambat dinamika kehidupan dengan membatasi diri pada praktek-praktek kerohanian semata, mengisolir diri dari realita kehidupan materi karena menganggap bahwa kesenangan-kesenangan duniawi itu kotor adanya, serta seluruh yang bersifat ukhrawi dipandang baik dan harus ditekuni secara sungguh-sungguh. Akibatnya, manusia kehilangan keseimbangannya. Maka ketika hasrat seksual mereka tidak terkontrol, maka terjadilah dekadensi moral yang amat keji, justru di tempat-tempat ibadah. Hal itulah yang membuat teolog kehilangan kredibilitasnya.

Sumber :
Seimbanglah Dalam Beragama - Marwan Al Qadiry

Read More

06 March 2017

Kebenaran Tidak Terletak Pada Banyaknya Orang Yang Berada di Atasnya

Kebenaran Tidak Terletak Pada Banyaknya Orang Yang Berada di Atasnya

Sekarang coba kita membayangkan menjadi orang yang sedang berada di persimpangan dan  menemui ada dua jalan yang membentang dihadapannya. Lalu ketika hendak memilih salah satu jalan, kita melihat banyak orang berbondong – bondong memilih jalan yang bukan kita pilih. Disinilah saat dimana mulai muncul keraguan, keraguan apakah kita tetap berada pada jalan yang sudah kita pilih? atau memilih jalan yang banyak orang berada diatasnya.

Sebenarnya keraguan itu bisa kita atasi dengan cara kita mengetahui apa yang ada di ujung kedua jalan itu. Jadi tidak menjadi masalah jalan mana yang akan kita pilih atau berapa banyak orang yang memilih jalan itu. Selama kita tahu tentunya tidak menjadi hal sulit bagi kita untuk memilih jalan mana yang akan kita lewati. Kita bisa mengatakan, “Owh, jalan yang ini mengarah pada sesuatu yang baik sedangkan jalan yang itu menuju pada sesuatu yang buruk, kalo begitu aku pilih jalan yang ini saja”.

Tetapi ada satu masalah lagi yang muncul. Kita tahu jalan mana yang baik tapi tidak memilih jalan yang baik itu. Kita lebih memilih bersama orang banyak sekalipun kita tahu ada kehancuran, dan keburukan yang ada diujung. Apakah tidak masalah kita mengalami hal buruk asalkan kita bersama banyak orang?

Hal – hal Itulah yang sedang saya rasakan saat ini. Banyak orang yang melakukan maksiat sekalipun mereka tau apa yang akan mereka dapatkan ketika melakukannya. Mereka melakukannya karena ada banyak orang yang bersama mereka dan mereka menafikan kebenaran yang mereka ketahui.
Banyak anak muda di zaman sekarang yang berpacaran Mereka melakukannya karena banyak orang juga melakukannya. Mereka mengerti adanya dampak buruk dari pacaran, mereka juga sudah tahu jika ada banyak korban karena pacaran. Mereka tahu semua itu, mereka tidak bodoh. Mereka seperti mengatakan, ‘Tidak masalah, semua orang juga melakukannya’.

Jika begitu, berarti tidak masalah Allah murka terhadap diri kita asalkan banyak orang yang bersama kita. Tidak masalah kita berdosa asalkan banyak orang melakukan hal yang sama dengan  kita. Sudah seharusnya kita menyadari bahwa kebenaran itu tidak terletak pada banyaknya orang yang berada diatasnya.  Sedah saatnya kita teguh berada di atas jalan yang kita yakini kebenarannya, jalan yang kita tahu diujungnya nanti adalah kebaikan. Tidak masalah meskipun kita hanya seorang diri berada di jalan itu, sedangkan di jalan lain yang kita yakini keburukannya lebih banyak ditempuh oleh orang banyak.

Dari Abu Hurairah, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Islam datang dalam keadaan yang asing, akan kembali pula dalam keadaan asing. Sungguh beruntungnlah orang yang asing” (HR. Muslim no. 145).

Tujuan kita adalah meraih ridho Allah, celaka bagi kita jika melakukan sesuatu dimana Allah tidak meridhoi hal itu. Islam telah menjelaskan hal apa yang dapat memicu murka Allah dan hal apa saja yang diridhoi-Nya. Jangan menjadi orang yang membohongi diri sendiri dengan menolak kebenaran. Sekali lagi, kebenaran tidak terletak pada banyaknya orang yang berada diatasnya.


Read More

05 March 2017

Menjaga Iman Agar Istiqomah

Menjaga Iman Agar Istiqomah

Menjaga Iman Agar Istiqomah - Iman itu kadang naik dan kadang turun. Bisa dirasakan ketika iman sedang naik, maka kita menjadi begitu bersemangat untuk melakukan ibadah dan amal kebaikan. Namun, ketika iman sedang turun maka kita menjadi malas untuk melakukan amal - amal kebaikan. Ada waktu ketika kita mampu untuk membaca Al -Qur'an 1 juz setiap harinya dengan bersemangat dan terasa ringan. Namun ada waktu juga dimana membaca 1 lembar Al - Qur'an itu sangat berat. Sebagai manusia biasa sudah sewajarnya jika mengalami hal tersebut.

Untuk itu saya mencoba menuliskan beberapa cara untuk menjaga iman kita agar cenderung meningkat. Maksudnya adalah naiknya iman kita lebih mendominasi diatas turunnya iman kita. Dan misal iman kita sedang turun maka itu hanya dalam waktu yang tidak berlangsung sama. Sehingga iman kita relatif untuk terus naik atau bisa dikatakan istiqomah.

Hal - Hal Untuk Menjaga Iman Agar Istiqomah  


1. Seorang hamba hendaknya senantiasa bermunajat (menyeru Allah dengan suara yang pelan dan tersembunyi). Sering berdo’a kepada-Nya, berharap kepada-Nya, dan sering ,mengingat-Nya

2. Senantiasa merenungkan isi Al-Qur’an. Karena tidak ada yang dapat menyatukan hati ini kembali menjadi baik, kecuali dengannya. Kita temukan, kebanyakan generasi muda terlena dan disibukkan urusan menuntut ilmu agama daripada membaca Al-Qur’an, sehingga hati mereka menjadi keras. Lalu bagaimana halnya dengan orang yang menyibukkan hatinya dengan berbagai kemaksiatan?
3. Menjaga shalat fardhu berjamaah. Allah telah menjamin orang yang menjaga shalat fardhu berjamaah, untuk tidak akan menghinakan dan merendahkannnya.

4. Menjalankan ibadah-ibadah sunnah rawatib (shalat sunnah yang dilakukan sebelum dan sesudah shalat fardhu) dan memperbanyak ibadah-ibadah tersebut. Karena setiap kali kita melakukan satu kali sujud kepada Allah, setiap itu juga Allah akan mengangkat derajat kita.

5. Bergaul dan mencintai orang-orang shalih.
Rasulullah saw bersabda, “ Seseorang itu sesuai dengan agama temannya, maka hendaknya salah seorang diantaramu memperhatikan siapa yang dia pergauli?” (HR. Ahmad). 
Rasulullah saw juga bersabda , sebagaimana yang terdapat dalam sunan At-Tarmidzi, “Hendaknya kamu jangan bergaul kecuali dengan orang yang beriman dan hendaknya orang yang memakan makananmu itu hanyalah orang yang bertakwa (HR. At-Tirmidzi)

6. Muraqabatullah (merasakan pengawasan Allah). Kita mengetahui Allah senantiasa bersama kita. Allah swt berfirman yang artinya,
” Apakah Allah yang menciptakan itu tidak mengetahui (yang kamu lahirkan atau kamu rahasiakan); dan Dia Maha Halus lagi Maha Mengetahui?.” (Al-Mulk: 14)
Kita juga menyadari, Allah mengetahui segala yang kita rahasiakan dan yang kita beberkan. Allah swt berfirman:
“Tidakkah kamu perhatikan, bahwa sesuangguhnya Allah mengetahui apa yang ada di langit dan di bumi? Tiada pembicaraan rahasia antara tiga orang, melainkan Dialah keempatnya . Dan tiada (pembicaraan antar) lima orang melainkan Dia-lah keenamnya. Dan tiada pula pembicaraan anatara jumlah yang kurang dari itu atau lebih banyak, melainkan Dia berada bersama mereka di mana pun mereka berada. Kemudian Dia akan memberitahukan kepada mereka pada hari kiamat apa yang telah mereka kerjakan. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui segala sesuatu.” (Al-Mujadilah)
Beberapa hal diatas dikutip dari buku karya Dr. A'idh Al - Qarni yang berjudul Selagi Masih Muda. Semoga dengan tulisan ini dapat menjadi manfaat untuk sahabat pembaca.

Sumber: buku selagi masih muda oleh Dr. A’idh Al-Qarni

Read More